Harga Minyak Dunia Naik Akibat Venezuela Bergolak, Indonesia Kena Dampak
DECIMALNEWS.com – Harga minyak dunia kembali menunjukkan tren kenaikan pada perdagangan Jumat (9/1/2026) ditengah meningkatnya kekhawatiran pasar terkait pasokan global dan situasi geopolitik khususnya dampak dari Venezuela yang bergejolak.
Data Reuters yang dikutip Decimalnews mencatat bahwa harga minyak mentah Brent naik sebesar 0,71 persen menjadi US$62,43 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) naik 0,68 persen ke US$58,15 per barel.
Secara mingguan, Brent diperkirakan menguat sekitar 2,7 persen, sedangkan WTI naik 1,4 persen.
Pemicu Kenaikan Harga
Menurut analis pasar, sejumlah faktor geopolitik menjadi pendorong utama pergerakan harga saat ini, beberapa diantaranya yakni:
– Ketidakpastian pasokan dari Venezuela setelah tindakan Pemerintah AS yang menangkap Presiden Nicolas Maduro dan klaim akan mengendalikan sektor minyak negara tersebut.
– Kerusuhan sipil di Iran, salah satu produsen minyak utama Timur Tengah, yang memperbesar kekhawatiran gangguan produksi.
– Potensi konflik yang meluas, dengan kekhawatiran dampak bagi ekspor minyak Rusia seiring ketegangan global yang masih berlangsung.
Langkah-langkah yang diambil oleh perusahaan-perusahaan minyak besar seperti Chevron, Vitol, dan Trafigura yang bersaing untuk mendapatkan kontrak ekspor minyak Venezuela juga memperkuat ekspektasi pasar terhadap tekanan pada pasokan yang tersedia secara global.
Namun analis mencatat bahwa jika persediaan Venezuela akhirnya dijual dalam jumlah besar tanpa batasan, kekhawatiran kelebihan pasokan bisa kembali menekan harga.
Kendati demikian saat ini tren harian menunjukkan kenaikan, sejumlah proyeksi jangka menengah terhadap harga minyak menunjukkan kontras signifikan.
anyak analis dan laporan energi global memperkirakan pasokan minyak global akan terus melampaui permintaan di sepanjang 2026, menciptakan surplus besar yang berpotensi menekan harga.
Sementara laporan dari Energy Information Administration (EIA) Amerika Serikat memperkirakan harga Brent dan WTI cenderung menurun atau stabil di bawah level tertinggi, dengan proyeksi rata-rata di kisaran kurang dari US$60 per barel di 2026 jika tekanan pasokan terus meningkat.
Data industri juga menunjukkan bahwa produksi minyak global meningkat, terutama dari negara-negara non-OPEC seperti AS, Brazil, dan Kanada, yang turut memperkuat kemungkinan oversupply.
Dampak Geopolitik vs Realitas Pasar
Menurut sejumlah analis internasional, konflik geopolitik bisa mendongkrak harga minyak sementara waktu melalui gangguan pasokan atau spekulasi pasar. Namun, gambaran keseluruhan permintaan dan pasokan global tetap menjadi faktor penentu arah harga minyak jangka menengah hingga panjang.
Dalam laporan lain, bahkan disebutkan bahwa ketidakseimbangan antara pasokan dan permintaan dapat terus berlanjut hingga 2026, menyebabkan tekanan turun pada harga meskipun ada gejolak regional.
Karenanya harga minyak naik dalam jangka pendek terjadi, terutama dipengaruhi oleh ketidakpastian pasokan dari Venezuela dan Iran serta faktor geopolitik.
Namun prospek jangka menengah cenderung bearish apabila surplus pasokan global terus bertambah dan permintaan tidak tumbuh signifikan sepanjang 2026.
Selain itu pergerakan harga minyak ke depan kemungkinan akan ditentukan oleh perkembangan geopolitik, keputusan OPEC+, dan pemulihan permintaan global, termasuk pola konsumsi energi di negara-negara besar seperti China dan AS.
Dampak Pada Indonesia
Tren kenaikan harga minyak dunia berpotensi membawa implikasi signifikan bagi perekonomian Indonesia, mengingat posisi Indonesia sebagai net importir minyak mentah. Kenaikan harga minyak global dapat memengaruhi berbagai sektor, mulai dari fiskal negara hingga daya beli masyarakat.
Tekanan pada APBN dan Subsidi Energi
Pemerintah Indonesia menetapkan asumsi harga minyak mentah Indonesia (ICP) dalam APBN 2026 pada kisaran tertentu untuk menjaga stabilitas fiskal. Jika harga minyak dunia terus bergerak di atas asumsi tersebut, maka beban subsidi dan kompensasi energi berpotensi meningkat, khususnya untuk BBM dan LPG bersubsidi.
Kondisi ini dapat mempersempit ruang fiskal pemerintah dan memaksa dilakukan realokasi anggaran, terutama jika lonjakan harga bersifat berkepanjangan. Dalam situasi ekstrem, pemerintah dapat mempertimbangkan penyesuaian kebijakan subsidi agar tidak membebani APBN secara berlebihan.
Pengaruh terhadap Harga BBM dan Inflasi
Kenaikan harga minyak dunia juga berpotensi mendorong penyesuaian harga BBM nonsubsidi di dalam negeri.
Seperti yang diketahui isu BBM subsidi acap kali menimbulkan banyak pergolakan, spekulasi dan hal lainnya di Indonesia.
Dampak lanjutan dari kondisi tersebut adalah meningkatnya biaya transportasi dan logistik, yang pada akhirnya bisa memicu kenaikan harga barang kebutuhan pokok.
Ekonom menilai bahwa jika tekanan harga minyak berlangsung lama, inflasi berisiko meningkat, terutama pada kelompok pengeluaran transportasi dan makanan. Hal ini menjadi tantangan tersendiri bagi Bank Indonesia dalam menjaga inflasi tetap berada dalam target yang ditetapkan.
Neraca Perdagangan dan Nilai Tukar Rupiah
Dari sisi eksternal, harga minyak yang lebih tinggi dapat memperlebar defisit neraca migas, sehingga menekan neraca perdagangan secara keseluruhan. Kondisi tersebut berpotensi memberikan tekanan tambahan pada nilai tukar rupiah, khususnya jika diiringi dengan penguatan dolar AS dan ketidakpastian global.
Namun demikian, dampak negatif ini dapat sedikit teredam oleh kenaikan harga komoditas ekspor Indonesia lainnya seperti batu bara dan CPO, yang umumnya bergerak searah dengan tren harga energi global.
Di sisi lain, kenaikan harga minyak juga dapat menjadi momentum positif bagi percepatan transisi energi nasional, Pemerintah dan pelaku usaha didorong untuk mempercepat pengembangan energi baru dan terbarukan (EBT), serta meningkatkan efisiensi konsumsi energi guna mengurangi ketergantungan pada impor minyak. (Redaksi)

