Ramai Kecurangan Pada UTBK-SNBT, Pengawasan dan Pendidikan Karakter Jadi Hal Fundamental

Ramai Kecurangan Pada UTBK-SNBT, Pengawasan dan Pendidikan Karakter Jadi Hal Fundamental

DECIMALNEWS.com – Anggota c, Ledia Hanifa Amaliah, menanggapi temuan kecurangan yang dilakukan sejumlah peserta dalam pelaksanaan Ujian Tulis Berbasis Komputer-Seleksi Nasional Berdasarkan Tes (UTBK-SNBT) 2026 di beberapa lokasi.

Menurut Ledia, praktik kecurangan dalam ujian menunjukkan persoalan mendasar terkait niat dan integritas peserta. Ia menegaskan keberhasilan yang diperoleh dengan cara tidak jujur tidak akan membawa manfaat.

“Kalau memang niatnya sudah tidak benar, pasti akan jadi tidak benar dan ilmunya juga tidak berkah,” ujar Ledia kepada Parlementaria dikutip, Jumat (24/4/2026).

Ia menilai perkembangan teknologi saat ini menuntut sistem pengawasan yang lebih ketat. Menurutnya, penyelenggara harus mampu mengantisipasi berbagai modus kecurangan sejak awal, termasuk pemanfaatan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).

“Kita perlu mendorong supaya mereka mau melakukan pengawasan sejak awal dan juga harus diantisipasi karena dengan kecanggihan teknologi seperti sekarang ini, hanya sekadar difoto soal bisa dijawab oleh AI,” kata Politisi Fraksi PKS ini.

Namun demikian, Ledia mengingatkan bahwa penggunaan AI untuk menjawab soal tidak akan menggantikan kemampuan peserta yang sesungguhnya.

“Tapi buat apa yang menjawab AI? Bukan AI yang mau kuliah, yang mau kuliah kan anaknya,” ujarnya.

Selain pengawasan teknis, Ledia menekankan pentingnya pembangunan karakter sejak dini melalui peran keluarga dan sekolah. Ia menyebut nilai kejujuran harus ditanamkan sebagai bagian dari proses pendidikan.

“Itu jadi bagian yang sangat penting harus ditumbuhkan sejak awal, pembangunan karakter oleh orang tua, oleh guru, bahwa bukan bab gengsi, ini bab ilmu untuk keberkahan di masa yang akan datang,” katanya.

Ia juga meminta kampus dan penyelenggara UTBK menyiapkan sistem keamanan yang lebih baik, termasuk meninjau kebijakan terkait barang bawaan peserta seperti telepon genggam dan perangkat teknologi lainnya.

“Memang kampus-kampus dan penyelenggara harus sudah menyiapkan pengamanan. Bagaimana tingkat pengamanannya? Apakah misalnya kita perlu memikirkan, boleh tidak bawa HP, boleh tidak bawa yang lain-lain yang berkaitan dengan teknologi?” ujarnya.

Menurut Ledia, secanggih apa pun teknologi yang digunakan, persoalan utama tetap kembali pada niat dan integritas peserta dalam mengikuti seleksi masuk perguruan tinggi secara jujur dan adil. (red)

Bagikan artkel ini: