Meski Jadi Beban, Purbaya Ungkap Alasan Pemerintah Tak Cabut Subsidi BBM
DECIMALNEWS.com – Kendati beban terbesar APBN RI adalah subsidi BBM, namun Pemerintah khususnya menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memilih tidak mencabut subsidi tersebut. Dan mengaku mempertahankan hingga akhir 2026, Rabu (20/5/2026).
Purbaya mengatakan, pemerintah telah memperhitungkan dampak pelemahan rupiah terhadap subsidi energi dalam simulasi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026.
“Soal rupiah melemah dan dampaknya terhadap subsidi BBM, itu sudah kami perhitungkan,” kata Purbaya dalam konferensi pers APBN KiTA di Kemenkeu, Jakarta, Selasa (19/5/2026) kemarin.
“Waktu menghitung APBN dan simulasi fiskal, kami sudah menggunakan asumsi kurs yang berbeda dari asumsi dasar APBN sebelumnya. Jadi tidak perlu khawatir,” katanya lagi.
Purbaya menegaskan, subsidi BBM tetap akan berjalan sampai akhir tahun untuk menjaga daya beli masyarakat dan stabilitas ekonomi nasional.
“Subsidi BBM masih dipertahankan sampai akhir tahun,” ujarnya.
Ia menuturkan, dampak pelemahan rupiah terhadap beban subsidi energi tidak sebesar pengaruh kenaikan harga minyak mentah dunia.
“Dampak pelemahan rupiah terhadap subsidi BBM relatif kecil. Yang besar justru harga minyak dunia,” ujarnya.
Pemerintah, lanjut dia, bahkan telah menyiapkan simulasi fiskal dengan asumsi harga minyak mentah mencapai 100 dolar AS per barel serta pergeseran kurs rupiah.
Selain menjaga stabilitas ekonomi, kebijakan mempertahankan subsidi energi juga dinilai penting untuk menghindari gejolak sosial dan politik.
“Kalau subsidi BBM dicabut drastis, stabilitas sosial dan politik bisa terganggu. Itu justru akan merusak ekonomi,” kata Purbaya.
Oleh karena itu, pemerintah memilih mempertahankan subsidi secara terukur sambil tetap menjaga kesehatan fiskal negara. (Red)

