Mahasiswa UTB Kantongi Rp66 Juta dari Anthropic Setelah Temukan Celah Keamanan Claude AI
DECIMALNEWS.com – Prestasi membanggakan kembali datang dari dunia pendidikan tinggi Indonesia. Mahasiswa Universitas Teknologi Bandung (UTB), Muhamad Arga Reksapati, berhasil memperoleh penghargaan dari perusahaan kecerdasan buatan Anthropic setelah menemukan celah keamanan pada sistem Claude Code Action, Senin (6/7/2026)
Temuan tersebut disampaikan melalui platform bug bounty HackerOne. Berkat laporannya, Arga menerima imbalan sebesar 3.700 dolar Amerika Serikat atau sekitar Rp66 juta, sebagai bentuk apresiasi atas kontribusinya dalam meningkatkan keamanan sistem AI milik Anthropic.
Arga, yang merupakan mahasiswa Departemen Teknik Informatika UTB, mengungkap adanya kerentanan pada mekanisme yang digunakan Claude Code Action saat menjalankan asisten AI di GitHub Issue dan Pull Request (PR).
Celah Keamanan Berpotensi Pengaruhi Proses AI
Dalam laporannya, Arga menjelaskan bahwa celah tersebut memungkinkan mekanisme perlindungan sistem dilewati melalui proses pemrosesan gambar pada kondisi tertentu.
Akibatnya, sistem AI berpotensi memproses informasi yang telah berubah setelah proses validasi awal dilakukan. Kondisi ini dinilai dapat memengaruhi instruksi yang diterima AI apabila tidak segera ditangani.
Setelah melalui proses evaluasi, tim keamanan Anthropic menetapkan tingkat keparahan temuan tersebut dan memberikan penghargaan berupa bug bounty senilai 3.700 dolar AS.
Berbeda dengan sejumlah program keamanan siber lainnya, Anthropic tidak menerbitkan sertifikat penghargaan. Sebagai gantinya, perusahaan memberikan kompensasi finansial melalui platform HackerOne kepada para peneliti yang berhasil menemukan kerentanan pada sistem mereka.
AI Hanya Alat Bantu, Verifikasi Tetap Dilakukan Manual
Arga menegaskan bahwa kecerdasan buatan hanya dimanfaatkan sebagai alat pendukung dalam proses riset keamanan siber.
Menurutnya, AI membantu mempercepat analisis awal dan menyusun hipotesis, namun seluruh proses verifikasi, pengujian, hingga pembuktian kerentanan tetap dilakukan secara manual.
Ia mengingatkan bahwa penggunaan AI tanpa pemahaman yang memadai berisiko menghasilkan laporan keamanan yang keliru. Karena itu, kemampuan analisis, penguasaan teknologi, dan etika profesional tetap menjadi fondasi utama dalam bidang cybersecurity.
Belajar Otodidak Meski Berasal dari Jurusan Teknik Mesin
Menariknya, perjalanan Arga di dunia keamanan siber tidak dimulai dari pendidikan formal di bidang komputer.
Saat duduk di bangku SMK, ia mengambil jurusan Teknik Mesin. Ketertarikannya terhadap teknologi sudah muncul sejak SMP, sehingga ia memilih mempelajari pemrograman secara mandiri melalui berbagai sumber belajar.
Rasa ingin tahu tersebut berkembang menjadi kemampuan yang lebih mendalam. Arga aktif mengeksplorasi source code, membuat proof-of-concept (PoC), serta mengikuti berbagai program bug bounty internasional untuk mengasah keahliannya.
Upaya belajar secara otodidak itu akhirnya membawanya mampu berkontribusi pada peningkatan keamanan sistem perusahaan teknologi berskala global.
Inspirasi bagi Mahasiswa Indonesia
Bagi Arga, pencapaian ini menjadi salah satu tonggak penting dalam perjalanan belajarnya di bidang teknologi. Ia berharap keberhasilannya dapat memotivasi mahasiswa lain agar tidak ragu mengembangkan kemampuan, meski berasal dari latar belakang pendidikan yang berbeda.
Ia meyakini bahwa keterbatasan fasilitas maupun jurusan sebelumnya bukanlah hambatan untuk berprestasi selama memiliki kemauan belajar dan konsistensi dalam mengembangkan kemampuan.
Keberhasilan tersebut sekaligus menunjukkan bahwa talenta digital Indonesia memiliki daya saing di tingkat internasional dan mampu memberikan kontribusi nyata bagi perkembangan teknologi kecerdasan buatan.
Sementara itu, Universitas Teknologi Bandung menyatakan terus berkomitmen mendukung pengembangan kompetensi mahasiswa di bidang teknologi digital dan keamanan siber. Kampus berharap semakin banyak mahasiswa yang mampu menghasilkan inovasi serta menjawab kebutuhan industri teknologi global yang terus berkembang. (red)

