Konsep Dasar Kompetensi (Bagian I)

Konsep Dasar Kompetensi (Bagian I)

oleh : Desi Ariyanti

Decimalnews.com – Pertanyaan mendasar dari materi ini adalah mengapa kompetensi. Mengapa kita mesti perkuat (bicara) kompetensi? Untuk memulai pembahasan hal kompetensi dasar, alangkah baiknya kita mengenal kompetensi dalam sejarah peradaban yang diajarkan Al qur’an. Berikut ini kompetensi yang dimiliki Nabi Musa, dalam pembahasan pertama Konsep dasar Kompetensi.

Kisah hidup Nabi Musa mengandung banyak teladan yang relevan bagi pengembangan kompetensi, terutama dalam konteks kepemimpinan, keberanian, komunikasi, dan pengambilan keputusan. Berikut adalah beberapa aspek kompetensi yang dapat diteladani dari Nabi Musa:

1. Keberanian Menghadapi Tantangan

Nabi Musa menunjukkan keberanian luar biasa saat diutus oleh Allah untuk menghadapi Fir’aun, penguasa Mesir yang kejam dan sangat berkuasa. Meski awalnya merasa ragu dan takut, Musa tetap maju untuk menyampaikan kebenaran dan memimpin kaumnya keluar dari penindasan.

Kompetensi yang terbangun dari kisah diatas adalah adanya Ketangguhan dan Keberanian. Dalam berbagai pekerjaan atau situasi hidup, kita sering menghadapi tantangan atau kekuatan yang tampak sulit dikalahkan. Belajar dari Nabi Musa, keberanian untuk melawan ketidakadilan dan kekuatan penindasan adalah kunci untuk mencapai perubahan yang lebih baik.

2. Keterampilan Berkomunikasi yang Efektif

Salah satu kisah Nabi Musa yang banyak beredar dari mulut ke mulut adalah: Nabi Musa itu seorang yang cadel, ucapan kata-katanya tidak jelas.

Itu makanya Nabi Musa berdo’a kepada Allah, yang ungkapan beliau itu dinukilkan Allah dalam surat Thaha ayat 25-28:

“Ya Tuhanku, lapangkan lah untukku dadaku, mudahkan untukku urusanku, dan lepaskan lah ikatan dari lidahku, hingga ia paham perkataanku”

Nabi Musa memiliki hambatan berbicara dan merasa tidak cukup fasih, sehingga ia meminta bantuan saudaranya, Harun, yang lebih pandai berbicara untuk membantunya menyampaikan pesan. Musa menyadari pentingnya menyampaikan pesan dengan cara yang dapat diterima oleh audiens, sehingga memilih jalan terbaik untuk berkomunikasi.

Kompetensi diatas yakni Komunikasi Efektif dan Kolaborasi. Dalam pekerjaan atau kehidupan sehari-hari, penting untuk mengetahui bagaimana berkomunikasi secara jelas dan kapan harus meminta bantuan agar pesan dapat disampaikan dengan baik. Mengakui keterbatasan dan bekerja sama dengan orang lain adalah bagian penting dari komunikasi yang efektif.

3. Kepemimpinan yang Bijaksana dan Bertanggung Jawab

Nabi Musa menunjukkan kepemimpinan yang bijaksana dalam memimpin Bani Israil menuju keselamatan dari perbudakan di Mesir. Dia menghadapi berbagai masalah dan tantangan dari kaumnya, namun tetap tegas dalam memberikan panduan dan mengambil keputusan yang tepat untuk kebaikan bersama. 

diantara tantangan yang dihadapi nabi Musa adalah penindasan, perasaan ketakutan, ancaman, kekerasan dan bahkan tantangan internal sendiri. Dimana bani israel telah banyak yang putus asa dan mulai meragukan nabi Musa. Namun Nabi Musa dengan penuh keyakinan, tetap tegas, teguh dan menguatkan kaum nya.

Kompetensi yang dibangun Nabi Musa dari konsep ini adalah Kepemimpinan yang Bertanggung Jawab. Sebagai seorang pemimpin, Musa memperlihatkan ketegasan, kesabaran, dan ketulusan dalam memimpin umatnya meski menghadapi tekanan. Dalam dunia kerja atau organisasi, seorang pemimpin perlu memiliki kompetensi ini untuk memastikan kemajuan dan keharmonisan dalam tim.

4. Pemecahan Masalah dan Pengambilan Keputusan

Saat terdesak oleh pasukan Fir’aun di belakang dan Laut Merah di depan, Musa berdoa kepada Allah dan menunjukkan ketenangan. Atas pertolongan-Nya, Musa kemudian memimpin umatnya menyeberangi laut yang terbelah dengan keberanian dan ketenangan. 

Sikap tenang dalam menghadapi masalah dipicu oleh keyakinan yang mendalam akan datangnya pertolongan Nya. Sikap ini penting bagi seorang leader/pemimpin dalam memberikan ketenangan sekaligus solusi bagi yang dipimpinnya.

Kompetensi yang dibangun dalam kisah diatas yakni Problem Solving dan Pengambilan Keputusan di Bawah Tekanan. Nabi Musa mengajarkan pentingnya ketenangan saat menghadapi situasi sulit. Dalam situasi mendesak, tetap tenang dan mencari solusi dengan bijak sangatlah penting.

5. Menghormati Keberagaman dan Membangun Kebersamaan

Nabi Musa menghadapi keberagaman yang kompleks dalam berbagai aspek kehidupan, mulai dari keyakinan, budaya, karakter, hingga gaya kepemimpinan. Kisahnya memberikan pelajaran berharga tentang pentingnya bersikap bijak, sabar, dan adil dalam menghadapi keberagaman. Dalam konteks kepemimpinan, kisah Nabi Musa mengajarkan bahwa keberagaman bisa menjadi kekuatan jika dikelola dengan cara yang tepat, yaitu dengan memahami, menghormati, dan mengarahkan setiap perbedaan untuk mencapai tujuan bersama. Meski keberagaman terlalu tinggi, namun nabi Musa tetap sabar dan memimpin mereka dengan hikmah serta kesabaran yang besar.

Kompetensi yang ditunjukkan adalah Kemampuan Sosial Kultural dan Toleransi. Menghormati keberagaman dan mampu berempati terhadap orang lain adalah kompetensi penting bagi pemimpin dan tim kerja yang menghadapi individu dengan berbagai karakter. Ketenangan dalam menghadapi orang yang berbeda, bahkan saat menghadapi kesulitan, adalah teladan dari Nabi Musa yang sangat relevan.

6. Tanggung Jawab terhadap Tugas dan Amanah

Ketika Allah menugaskan Musa untuk menjadi pemimpin Bani Israil, ia memikul tanggung jawab besar ini meskipun menyadari risikonya. Nabi Musa sering kali menghadapi penolakan dan ketidakpercayaan dari sebagian kaumnya. Ada kalanya mereka meragukan kemampuannya sebagai pemimpin, bahkan meminta Musa mengembalikan mereka ke Mesir karena merasa sulit di padang pasir.

Begitu pula ketika Musa naik ke Bukit Sinai untuk menerima wahyu dari Allah, sebagian dari kaumnya yang dipimpin oleh Samiri justru membuat patung anak sapi dan menyembahnya. Ini merupakan bentuk pengkhianatan terhadap Musa dan penyimpangan dari ajaran Allah. Dan masih banyak lagi risiko-risiko yang diterima Nabi Musa dalam memimpin kaumnya. Namun demikian, Nabi Musa tetap menunjukkan integritas tinggi dan komitmen penuh untuk menjalankan tugasnya hingga akhir hayatnya.

Kompetensi yang dibangun adalah Integritas dan Komitmen terhadap Amanah. Musa mengajarkan bahwa memegang amanah dengan sepenuh hati adalah bagian penting dari tugas apa pun, khususnya bagi seorang pemimpin atau pemegang tanggung jawab. Integritas dan komitmen ini penting dalam setiap profesi atau peran yang melibatkan tanggung jawab.

Dari kisah Nabi Musa, kita belajar bahwa kompetensi teknis maupun non-teknis harus didasarkan pada nilai-nilai luhur seperti kejujuran, keberanian, keteguhan, dan ketulusan dalam melayani. Nilai-nilai ini mengajarkan cara menghadapi tugas dengan penuh tanggung jawab, menunjukkan kepedulian terhadap sesama, serta menghargai keragaman dan kolaborasi untuk mencapai tujuan yang lebih besar.(*)

Bagikan artkel ini: