Pendampingan UMKM oleh KPPN Parepare pada Pelaku Hilirisasi Kopi

Pendampingan UMKM oleh KPPN Parepare pada Pelaku Hilirisasi Kopi

Decimalnews.com – Ada yang menarik dari program pemerintah, yakni hilirisasi. Mungkin belum banyak yang tahu tentang definisi hilirisasi, karena memang baru beberapa bulan ini disebut-sebut dalam pemerintahan sebelumnya, dan hilirisasi juga menjadi bahasa familier saat debat capres bulan Februari lalu.

Pelaku UMKM di lingkup KPPN Parepare, telah beberapa yang menggeluti usaha hilirisasi. Pendampingan dilakukan KPPN sebagai upaya utuh pemberdayaan UMKM dengan menggelar bazar UMKM sehingga menjadi salah satu metode pemasaran yang merupakan tantangan dan kelemahan banyak pelaku UMKM. 

KPPN Parepare menggelar bazar UMKM diikuti kurang lebih 30 pelaku UMKM beberapa waktu lalu. Salah satu pelaku UMKM lingkup KPPN Parepare yang mengikuti bazar dan melakukan upaya hilirisasi adalah cafe Gudmud, mengolah biji kopi dari mulai pendampingan petani, pemanenan hingga pengolahan dan penyajian dalam cafe. Berikut ulasan hilirisasi kopi.

Definisi

Hilirisasi, meskipun secara definisi belum terlalu familiar di telinga, namun secara aplikatif sebagian masyarakat terutama pelaku UMKM telah mengimplementasikannya. Hilirisasi adalah proses pengembangan suatu industri dengan memfokuskan pada kegiatan pengolahan bahan mentah menjadi produk setengah jadi atau produk jadi yang memiliki nilai tambah lebih tinggi. Dalam konteks ekonomi, hilirisasi bertujuan untuk meningkatkan nilai ekonomi, memperkuat rantai pasok, dan menciptakan produk yang lebih kompetitif di pasar domestik maupun internasional.

Hilirisasi seringkali melibatkan langkah-langkah seperti diversifikasi produk, pemanfaatan teknologi pengolahan, peningkatan kualitas bahan baku, serta pengembangan jaringan distribusi dan pemasaran. Konsep ini dapat diterapkan pada berbagai sektor, seperti pertanian, perikanan, kehutanan, pertambangan, dan energi.

Contoh Hilirisasi adalah Kopi, dari biji kopi mentah (green beans) menjadi produk jadi seperti bubuk kopi, kopi instan, atau minuman kopi dalam kemasan. Di Bidang pertambangan kita mengenal hilirisasi nikel, yakni mengolah bijih nikel menjadi stainless steel atau baterai untuk kendaraan listrik. Dalam hal perikanan, hilirisasi dapat diartikan dengan mengolah hasil tangkapan ikan menjadi produk olahan seperti ikan beku, abon ikan, bakso ikan atau sarden kaleng.

Hilirisasi Kopi dan Manfaatnya

Hilirisasi kopi merupakan upaya untuk meningkatkan nilai tambah produk kopi melalui pengolahan, diversifikasi produk, dan pengembangan pasar. Proses ini tidak hanya berfokus pada produksi bahan mentah, tetapi juga pada pengembangan produk jadi yang memiliki nilai jual lebih tinggi. Dengan Indonesia sebagai salah satu produsen kopi terbesar di dunia, hilirisasi kopi menjadi langkah strategis untuk memperkuat daya saing di pasar domestik dan internasional.

Indonesia dikenal sebagai salah satu negara penghasil kopi berkualitas dengan berbagai varietas seperti Arabika dan Robusta. Namun, sebagian besar hasil panen kopi dijual dalam bentuk biji mentah (green beans) yang nilainya jauh lebih rendah dibandingkan produk olahan. 

Hilirisasi kopi dapat membawa berbagai manfaat, antara lain 1) Meningkatkan Nilai Ekonomi. Dengan mengolah kopi menjadi produk jadi seperti bubuk kopi, kapsul kopi, atau produk minuman kemasan, nilai jual kopi bisa meningkat berkali lipat dibandingkan menjualnya dalam bentuk mentah.2) Menciptakan Lapangan Kerja. Proses hilirisasi membutuhkan lebih banyak tenaga kerja, mulai dari pengolahan, pengemasan, hingga pemasaran, sehingga dapat mengurangi angka pengangguran di daerah penghasil kopi. 3) Mendorong Inovasi Produk. Hilirisasi memotivasi pelaku usaha untuk menciptakan berbagai produk turunan kopi, seperti permen kopi, scrub kopi, atau bahkan bahan pangan berbasis kopi. 4) Memperluas Pasar: Produk olahan memiliki daya tarik lebih besar di pasar internasional karena lebih praktis dan sesuai dengan kebutuhan konsumen modern.

Tahapan Pengolahan Kopi dan Tantangan UMKM

Proses pengolahan kopi memiliki beberapa tahapan, dimulai dari panen hingga menjadi produk siap konsumsi. Berikut adalah tahapan pengolahan kopi yang berhasil KPPN Parepare potret dari pelaku UMKM, owner Cafe Gudmud di Kota Parepare. Cafe Gudmud adalah pelaku UMKM yang telah mendapatkan pendampingan UMKM KPPN dengan mengikuti bazar sehingga menumbuhkan pengalaman berkolaborasi dengan pelaku UMKM di Kota Parepare sekaligus dapat melakukan perluasan market.

Desi Ariyanti, pegawai KPPN Parepare bersama Owner cafe Gudmud, Syahrani dan barista Wawan, di Bazar UMKM yang digelar KPPN Parepare. Oktober lalu.
Foto : Desi Ariyanti, pegawai KPPN Parepare bersama Owner cafe Gudmud, Syahrani dan barista Wawan, di Bazar UMKM yang digelar KPPN Parepare. Oktober lalu.

Syahrani, pelaku UMKM yang sekaligus pemilik Cafe menyampaikan secara rinci, hal pengolahan kopi yang ada di cafe nya yakni proses hulu ke hilir. Syahrani merupakan salah satu pelaku UMKM yang tergabung dalam komunikas pengolah kopi, dimana sering sekali terjun langsung ke petani untuk turut serta mendampingi penyuluh perkebunan untuk memberikan pelatihan khusus tentang budidaya kopi.

Menanam kopi merupakan seni sekaligus keterampilan yang membutuhkan perhatian tersendiri. Tidak semua kopi yang ditanam dapat menghasilkan biji kopi yang berkualitas dan berlimpah. Penanaman membutuhkan teknik dan cara tertentu. Untuk mendapatkan kualitas biji kopi yang unggul, petani harus lebih banyak belajar bersama para penyuluh yang disiapkan pemerintah/swasta. Pelatihan dan edukasi kepada petani mengenai teknik penanaman, perawatan, teknik panen dan pengolahan pasca-panen yang baik dapat meningkatkan kualitas biji kopi. 

Menurut Syahrani, ada 2 macam panen yang biasa dilakukan petani, Pertama, pemetikan selektif, dimana pada saat panen hanya buah kopi matang berwarna merah yang dipetik untuk menghasilkan kualitas kopi terbaik. Namun bisa juga pemetikan dilakukan secara massal dimana seluruh buah kopi dipanen sekaligus, termasuk yang belum matang, biasanya untuk produksi massal dengan kualitas lebih rendah.

Setelah panen, biasanya biji kopi dipisahkan yang basah, setengah basah dan kering. Jika kopi belum kering, maka dilakukan pengeringan di bawah sinar matahari atau menggunakan mesin pengering hingga kadar air ideal (12–13%) untuk mencegah jamur dan memperpanjang umur penyimpanan.

Biji kopi yang telah kering dikupas kulit arinya menggunakan mesin untuk menghasilkan green beans. Setelah itu biji kopi disortir berdasarkan ukuran, warna, dan kualitas menggunakan alat atau secara manual. Biji cacat dan kotoran dipisahkan untuk menjaga kualitas.

Kemudian, green beans disangrai pada suhu tertentu untuk mengembangkan rasa dan aroma khas kopi. Setelah itu Biji kopi yang telah disangrai digiling sesuai kebutuhan, kasar, sedang, atau halus. Kopi yang telah digiling halus biasanya menjadi kopi espresso atau kopi tubruk (original). 

Foto : Barista Cafe gudmud Wawan sedang melayani pelanggan
Foto : Barista Cafe gudmud Wawan sedang melayani pelanggan

Setiap tahapan memiliki pengaruh besar terhadap kualitas kopi yang dihasilkan. Oleh karena itu, pengolahan yang tepat sangat penting untuk menjaga cita rasa dan aroma kopi yang diinginkan.

Sebagai pelaku UMKM yang menggeluti kopi, Syahrani memahami betul terdapatnya tantangan-tantangan yang tidak mudah. Proses hilirisasi kopi memiliki tantangan dari eksternal dan internal, seperti proses penanaman dan pemeliharaan yang membutuhkan edukasi tertentu, kurangnya akses petani terhadap teknologi, modal yang terbatas, dan persaingan di pasar global. Selain itu, fluktuasi harga kopi dunia dan perubahan preferensi konsumen juga menjadi faktor yang perlu diperhatikan. 

Banyaknya tantangan tidak membuat surut pelaku UMKM yang mengaku sebagai entrepreneur. Justru berkembangnya usaha, biasanya dipicu oleh tantangan-tantangan yang besar. Oleh karena itu, terdapat istilah kolaborasi, dimana para pelaku UMKM baik dari hulu dan hilir hendaknya saling membantu dan memberikan edukasi agar bidang yang digeluti dapat maksimal tumbuh. Petani membutuhkan kolaborasi dengan pemerintah dan swasta guna memberikan edukasi pertanian/perkebunan, dan pelaku UMKM membutuhkan kolaborasi petani, perbankan dan masyarakat untuk bisnisnya dapat sustainable. (*)

Bagikan artkel ini: