Cetak Sawah dan Surplus, Kok Harga Beras Mirip Emas?

Cetak Sawah dan Surplus, Kok Harga Beras Mirip Emas?

Decimalnews.com – Program cetak sawah nampaknya perlu untuk dievaluasi, kendati targetnya swasembada pangan, namun tak bisa ditampik beras yang ditahui merupakan pangan utama mayoritas warga tak kunjung turun, malah terus naik dari tahun ke tahun.

Tahun 2022 harga beras berada pada angka Rp9.824 untuk premium, sementara medium Rp.9.381.

Pada 2023 harga beras memang melonjak tajam menembus angka Rp14.430 dan medium Rp12.270 hal itu terjadi lantaran adanya fenomena el-nino.

El Nino dituding sebagai penyebab dan dasar kenaikan harga beras, itu tidak lain karena pergeseran masa panen, yang berdampak pada penurunan produksi beras.

Tahun berikutnya, 2024 harga beras pada kuartal I tembus Rp16.410 dan medium Rp14.270. Harga ditengarai atau diduga naik lantaran program bansos yang mengakibatkan kelangkaan.

Kendati kuartal II sudah turun, namun harga masih cukup tinggi pada angka Rp15.990 dan medium Rp13.810 pada April.

Harga baru stabil pada kuartal III yang turun signigikan (meski harga gabah rendah) Rp13.361 dan Rp11.800, namun sayangnya ini tak bertahan lama, kuartal IV 2024, harga kembali naik dimana beras medium Rp 13.500.

Pada Januari Tahun 2025, 2 bulan Presiden Prabowo menjabat rata-rata harga beras kualitas premium di penggilingan sebesar Rp13.112,00 per kg, naik sebesar 0,82 persen dibandingkan bulan sebelumnya, sedangkan beras kualitas medium di penggilingan sebesar Rp12.609,00 per kg atau naik sebesar 1,29 persen.

Saat ini Agustus 2025 Harga Eceran Tertinggi Beras Medium Rp13.500 per Kg.

Fenomena beras yang terus menanjak ini memang disebut banyak pihak sebagai anomali, namun begitu ada dua hal yang patut dicermati

Pertama, perilaku (behavior) harga beras tidak hanya ditentukan produksi dan cadangan beras pemerintah, kendatipun Bulog mengaku memiliki stok 4 juta ton (antaraberita).

Kedua, faktor determinan penentu harga beras sangat komplek dan dinamis menurut ruang dan waktu.

Implikasinya, setiap wilayah dan setiap saat, pasokan dan harga beras medium bisa berfluktuasi tergantung kondisi setempat dan pasokan dari wilayah sekitarnya.

Sekalipun produksi nasional meningkat signifikan, tetapi jika terakumulasi pada periode singkat, dan hanya pada beberapa tempat, maka saat periode paceklik (puncak tanam dan puncak musim wilayah), dipastikan harga beras terdongkrak secara alamiah.

Pemerintah menengarai peningkatan harga beras medium saat ini karena adanya peran middle man atau yang seringkali dikenal sebagai mafia beras.

Benarkah middle man sekuat itu, sehingga mampu mengguncang dan mendistorsi harga beras nasional saat panen raya dan cadangan beras nasional tertinggi sepanjang sejarah?

Jawabannya, pertama peran middle man memang kuat, karena beberapa swasta menguasai industri padi dari on farm, hilir, dan pemasaran yang dimungkinkan secara legal.

Kedua, pemerintah tidak cukup kuat perannya dalam distribusi dan kontrol cadangan beras, padahal undang-undang mewajibkan pemilik gudang melaporkan stok sehingga pemerintah punya data real time stok pangan terutama beras.

Jika penyebab pertama dan kedua terjadi simultan, maka fluktuasi harga beras dipastikan akan terjadi. Pertanyaan selanjutnya, bagaimana dinamika kuantitatifnya di lapangan. (Redaksi)

 

Bagikan artkel ini: