Skandal Mega Korupsi Pertamina, NGO Desak Transparansi Pertamina Yang Rugikan Masyarakat

Skandal Mega Korupsi Pertamina, NGO Desak Transparansi Pertamina Yang Rugikan Masyarakat

Decimalnews.com — Skandal Mega Korupsi PT Pertamina Patra Niaga yang merugikan negara hingga Rp193,7 triliun terus menjadi sorotan.

Dugaan korupsi yang melibatkan Direktur Pertamina Patra Niaga, Riva Siahaan dan sejumlah petinggi dari Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Migas ini menjadi tersangka.

Tersangka RS melakukan pembelian untuk Ron 92, padahal sebenarnya hanya membeli Ron 90 atau lebih rendah kemudian dilakukan blending di Storage/Depo untuk menjadi Ron 92 dan hal tersebut tidak diperbolehkan,” ujar Direktur Penyidikan Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus (Jampidsus) Kejagung RI, Abdul Qohar.

Adapun modus yang dilakukan para tersangka dengan melakukan pengondisian dalam Rapat Optimalisasi Hilir (OH) dan dijadikan dasar untuk menurunkan produksi kilang.

Hal ini menyebabkan produksi minyak dalam negeri berkurang dan tidak memenuhi nilai ekonomis, sehingga melakukan impor.

“Perbuatan melawan hukum tersebut telah mengakibatkan adanya kerugian keuangan negara sekitar Rp193,7 triliun,” jelas Abdul Qahar.

Kerugian negara menurut Qahar, bersumber dari ekspor minyak mentah dalam negeri, impor minyak mentah dengan memenangkan broker, dan kerugian berdasarkan pemberian kompensasi dan subsidi yang melawan hukum.

Penggiat Korupsi dari Indonesia Timur Coruption Watch (ITCW), Jasmir L. Lainting mendesak agar Pertamina transparan atas perbuatan sangat tidak manusiawi kepada rakyat Indonesia ini.

“Ini merupakan sebuah perbuatan yang sangat merusak jiwa manusiawi. Bagaimana tidak, sasaran pasarnya masyarakat bahkan ke tingkat bawah,”kata dia, Rabu 26 Februari 2025.

Jasmir menjelaskan, hitung saja dalam satu hari untuk penjualan 1 juta liter Pertalite yang dijual dengan harga Pertamax ini, masyarakat ditipu Rp3,7 miliar. “Sekarang harga Pertalite Rp10.000, Pertamax Rp13.700. jika penipuan yang dilakukan operator tunggal BBM ini 1 juta liter saja, maka uang masyarakat dikeruk Rp3,7 miliar. Bayangkan jika satu tahun dengan berjalan,”terang Jasmir geleng-geleng kepala. (Dia)

Bagikan artkel ini: