Kisah Rasulullah Menghadapi Anggotanya yang Jadi Penyebab Kekalahan di Uhud
Decimalnews.com – Tentu kita masih ingat peristiwa saat Rasulullah menelan kekalahan dalam perang Uhud. Kala itu 70 orang shahabatnya gugur sebagai syuhada dan diantaranya ada paman Rasulullah, Hamzah bin Abdul Muththalib
Pada perang itu pula Rasulullah mengalami luka cukup serius akibat terperosok ke dalam lubang jebakan yang dibuat oleh pasukan Quraisy.
Awalnya sesaat sebelum perang dengan kaum Qurais, Rasulullah sudah menginstruksikan lima puluh pasukan pemanah di atas sebuah bukit, dan menunjuk Abdullah bin Jubair sebagai pemimpin pasukan itu.
Tugas mereka adalah melindungi pasukan kaum Muslimin agar tidak mendapatkan serangan dari arah belakang. Instruksi Rasulullah untuk mereka sangat jelas, “Lindungi kami dari pasukan berkuda orang-orang Quraisy dengan anak panah kalian”, kata Rasulullah dengan tegas. “Mereka tidak akan datang ke tempat kita dari belakang kita. Baik kita menang atau kalah, hendaklah engkau tetap di posisimu. Jangan sekalik-kali kita didatangi dari arah belakang.”
Namun alih-alih begitu, instruksi itu justru tidak dijalankan dengan baik.
Kala itu, pasukan Muslimin yang lainnya memang telah berhasil memukul mundur pasukan musuh.
Pasukan pemanah yang melihat itu mengira kemenangan sudah ditangan mereka sehingga tergiur untuk turun dari bukit untuk mengumpulkan harta ghanimah, atau rampasan perang dan mengabaikan teriakan Abdullah bin Jubair.
Hasilnya mengejutkan, Khalid bin Walid yang saat itu memimpin pasukan sayap kanan Quraisy memanfaatkan situasi itu untuk menyerang pasukan kaum Muslimin dari arah belakang.
Baca Juga: Dakwah Adalah Kebijaksanaan yang Diliputi Kesadaran
Pertahanan bagian belakang kaum Muslimin dalam keadaan lengah karena mereka menyangka pasukan pemanah masih melindungi mereka dari atas bukit. Ketika pasukan Khalid bin Walid datang menyeruak dari arah belakang, pasukan kaum Muslimin kaget bukan kepalang, barisan kocar-kacir, semua orang menyelamatkan diri masing-masing, bahkan dalam waktu sesaat mereka melupakan keselamatan Rasulullah dan meninggalkannya sendirian. Satu demi per satu para shahabat berguguran sebagai syuhada.
Berdasarkan fakta tersebut, sudah sangat jelas siapa yang paling bertanggung jawab atas kekalahan kaum Muslimin dalam Perang Uhud. Pasukan pemanah yang Rasulullah tempatkan di atas bukit telah lalai dalam melaksanakan tugasnya. Mereka bahkan telah melakukan kesalahan besar, karena mengabaikan instruksi Rasulullah yang menyebabkan kekalahan bagi pasukan kaum Muslimin.
Lalu bagaimana sikap Rasulullah terhadap pasukan pemanah itu? Apakah Rasulullah menghardik atau menghukum mereka?
Dalam riwayatnya, menghadapi itu Rasulullah justru bersikap tenang dan tidak menyalahkan. Beliau justru mendengarkan permintaan maaf mereka, mendengarkan penjelasan mereka, dan mendengarkan penyesalan mereka.
Rasulullah tidak mengucilkan dan mendiamkan mereka. Bahkan Rasulullah mengajak mereka untuk kembali bermusyawarah dan mendengarkan perkataan mereka. Allah memerintahkan Rasulullah untuk bersikap demikian melalui firman-Nya, “wa syawirhum fil amri” (Dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu).
Hal ini kemudian patut menjadi contoh bagaimana sebaiknya bersikap. Terlebih, anjuran lemah lembut memang tertera pada surat Ali Imran: 159.
“Maka berkat rahmat Allah engkau (Muhammad) berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya engkau bersikap keras dan berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekitarmu. Karena itu maafkanlah mereka dan mohonkanlah ampunan untuk mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian, apabila engkau telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah. Sungguh Allah mencintai orang-orang yang bertawakal. (Q.s. Ali Imran: 159).

