Kemampuan Dasar Siswa Menurun, Apa yang Sebenarnya Terjadi di Sekolah?
DECIMALNEWS.Com – Di sebuah kelas sekolah dasar, guru harus mengulang bacaan yang sama berkali-kali karena sebagian siswanya belum mampu memahami satu paragraf pendek. Di kelas lain, soal penjumlahan sederhana masih memicu kebingungan. Ini bukan lagi cerita terpisah dari satu sekolah ke sekolah lain. Ini mulai menjadi pola yang diam-diam diterima sebagai kewajaran.
“Pertanyaannya sederhana, tetapi mengganggu: Bagaimana mungkin siswa terus naik kelas, sementara kemampuan membaca dan berhitungnya tertinggal?”
Kekhawatiran terhadap kemampuan dasar siswa literasi dan numerasi, kian sering terdengar dari ruang-ruang kelas. Guru menyaksikan sendiri bahwa beberapa siswa menghadapi kesulitan memahami teks sederhana atau menyelesaikan hitungan dasar, yang seharusnya sudah dipelajari sejak kelas awal. Ini adalah masalah besar dan merupakan sinyal paling kuat tentang kualitas pendidikan dasar kita.
Di sekolah, fondasi literasi dan numerasi dianggap selesai hanya karena materi telah diajarkan, bukan karena siswa benar-benar memahaminya. Namun, jika fondasi ini rapuh, seluruh bangunan pembelajaran di atasnya akan goyah.
Menurut Prof. Arief Rachman, masalah pendidikan dasar tidak terletak pada kurikulum, tetapi pada proses belajar di kelas yang tidak memastikan bahwa anak-anak “paham”. Anak-anak terlihat belajar, tetapi sebenarnya tidak memahami apa yang mereka pelajari.
Di sisi lain, Prof. Najelaa Shihab menyatakan bahwa pembelajaran di sekolah masih terlalu fokus pada menyelesaikan materi daripada menyelesaikan pemahaman siswa. Akibatnya, siswa naik kelas membawa ketidakpahaman yang menumpuk dari tahun ke tahun. Masalah ini makin kompleks karena sekolah tidak hanya menghadapi persoalan akademik. Iklim sosial di dalamnya juga belum sepenuhnya aman. Perundungan masih terjadi dan seringkali dianggap normal dan tidak penting.
Namun, rasa aman sangat penting bagi anak untuk belajar, kata Prof. Rose Mini Agoes Salim, seorang psikolog pendidikan. Anak-anak yang merasa terancam akan berkonsentrasi pada cara berinteraksi sosial daripada pelajaran. Artinya, ketika siswa tidak mampu memahami pelajaran, persoalannya bisa jadi bukan semata pada kemampuan kognitif, tetapi pada pengalaman sosial dan emosional mereka di sekolah setiap hari. Namun, di tengah semua itu, sekolah justru terlihat sibuk dengan banyak hal. Guru sibuk dengan administrasi, laporan, proyek, program, serta berbagai tuntutan formal yang menyita energi.
Sekolah berlomba menghadirkan berbagai inovasi program, kegiatan yang sifatnya seremonial, serta pencitraan kelembagaan. Ukuran keberhasilan seringkali dilihat dari banyaknya kegiatan, bukan dari seberapa banyak siswa yang benar-benar sudah bisa membaca dengan lancar. Ada paradoks yang jarang dibicarakan secara terbuka: semakin banyak program dijalankan, semakin sedikit perhatian yang diberikan pada persoalan paling mendasar di kelas. Ironisnya, siswa bisa dinyatakan tuntas belajar, naik kelas, bahkan lulus, tanpa pernah dipastikan bahwa kemampuan paling mendasar telah benar-benar dikuasai. Sistem seakan mengizinkan ketidakpahaman itu ikut naik bersama jenjang kelas.
Sebagai pemerhati pendidikan, sulit bagi saya untuk menerima keadaan ini sebagai situasi yang wajar. Sistem pendidikan kita cenderung berfokus pada metrik administratif dan prestasi formal, sementara masalah paling penting di ruang kelas gagal ditangani secara bersamaan. Kita seperti membiarkan sekolah tampak berjalan baik di atas kertas, padahal di dalam kelas, banyak siswa yang sesungguhnya sedang tertinggal. Ketika siswa tidak memahami bacaan, ketika berhitung sederhana menjadi beban, ketika kelas tidak lagi menjadi ruang yang aman, dan ketika motivasi belajar memudar, maka yang menjadi persoalan bukan lagi pada siswa.
Namun pada cara sekolah, dan sistem di atasnya, bekerja. Lebih jauh lagi, kondisi ini memperlihatkan bahwa ukuran keberhasilan pendidikan selama ini mungkin perlu dipertanyakan ulang. Apakah keberhasilan diukur dari kelengkapan administrasi, banyaknya program, dan rapor yang terlihat baik? Atau dari kemampuan nyata siswa memahami hal paling dasar yang menjadi fondasi belajarnya?
Kondisi ini menunjukkan bahwa ada hal mendasar yang perlu mendapat perhatian serius dalam praktik pendidikan di sekolah seperti bagaimana pembelajaran di kelas dijalankan, bagaimana iklim sosial dibangun, dan bagaimana keterlibatan siswa ditumbuhkan sebagai inti dari proses dari sebuah pembelajaran. Namun jika membaca dan berhitung saja belum tuntas, tetapi sekolah merasa sudah berhasil, maka ada yang keliru dari bagaimana cara kita mendefinisikan keberhasilan pendidikan. Anak-anak mungkin tetap naik kelas, tetapi apakah kemampuan mereka ikut naik? Kekeliruan ini menunggu untuk diakui dan dijawab secara jujur.
Oleh: Pinheiro

