Mengapa Komdigi Ingin Cetak 9 Juta Talenta Digital dan Apa Dampaknya bagi Anak Muda?
DECIMALNEWS.com -Di tengah derasnya derasnya gelombang transformasi digital yang menyapu hampir semua sektor kehidupan, kebutuhan akan sumber daya manusia yang terampil dalam teknologi bukan lagi sekadar keinginan — ia berubah menjadi keharusan. Itulah yang kini tengah dihadapi Indonesia: bukan hanya mengejar angka, tetapi membangun masa depan.
Pada awal Februari 2026, Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) menegaskan target ambisius untuk mencetak 9 juta talenta digital sebagai bagian dari strategi nasional memperkuat kapasitas bangsa di ranah teknologi. Ambisi ini bukan sekadar angka statistik — ia merefleksikan cita-cita besar untuk memosisikan Indonesia sebagai negara yang mampu bersaing di era teknologi global.
Wakil Menteri Komdigi, Nezar Patria, membuka percakapan realistis tentang kondisi riil pasar tenaga kerja digital di Indonesia. Saat ini, kebutuhan talenta digital Indonesia diproyeksikan mencapai sekitar 12 juta orang pada 2030, sementara angka pasokan baru mencapai sekitar 3 juta orang. Kesenjangan ini menunjukkan jurang yang harus dijembatani jika Indonesia ingin tidak hanya mengikuti, tapi memimpin di era digital.
“Itu pun sudah dihimpun dari berbagai ekosistem yang ada. Maka, kita perlu memacu berbagai program pengembangan talenta,” kata Nezar dikutip dari siaran pers Kementerian Komdigi, Selasa 10 Februari 2026.
Kesenjangan ini juga mencerminkan perubahan cepat dalam industri, di mana keterampilan teknologi seperti coding, kecerdasan buatan (artificial intelligence), keamanan siber, serta pengelolaan data menjadi mata kuliah wajib dalam lanskap ekonomi kontemporer.
Dari Program Nasional ke Kolaborasi Daerah
Strategi pemerintah untuk menyiapkan talenta digital mencakup lebih dari sekadar target kuantitatif. Komdigi memperkuat instrumen yang sudah berjalan, seperti Digital Talent Scholarship (DTS) — sebuah program pelatihan yang menyasar pelajar, mahasiswa, kaum muda, hingga ASN — untuk memupuk keterampilan soft dan hard skill di bidang digital.
Selain itu, kolaborasi dengan pemerintah daerah juga menjadi langkah penting. Sebagai contoh, adendum kerja sama dengan Pemerintah Provinsi Jawa Timur menargetkan pembinaan ribuan talenta digital pada 2026. Ini memperlihatkan bahwa pembangunan talenta tidak hanya menjadi urusan nasional di Jakarta, tetapi juga di daerah — dari startups lokal hingga program-program komunitas berbasis teknologi.
Ekosistem Belajar di Ruang Digital
Salah satu dimensi penting dari upaya ini adalah bagaimana ruang digital dipandang bukan hanya sebagai tempat hiburan, tetapi sebagai ruang pembelajaran. Media sosial, misalnya, kini bertransformasi menjadi arena kreativitas, dan platform untuk belajar serta menjalin jaringan profesional. Namun demikian, pengaturan terhadap ruang digital tetap menjadi tantangan, terutama terkait regulasi perlindungan anak dan keterbukaan ruang publik.
Menatap Masa Depan
Target 9 juta talenta digital mencerminkan keyakinan bahwa Indonesia dapat beradaptasi dengan cepat terhadap kebutuhan industri global. Mencapai angka itu berarti memupuk generasi yang tidak hanya mampu bekerja dengan teknologi, tetapi yang juga mampu menciptakan teknologi itu sendiri — dari solusi startup lokal hingga kontribusi di ranah AI, data science, dan inovasi digital lain di tingkat global.
Jika target ini bukan sekadar angka, tetapi cita-cita kolektif, maka jalan yang masih panjang ini bisa menjadi refleksi komitmen bangsa untuk memastikan masa depan Indonesia berada pada peta transformasi digital dunia. (Redaksi)

