Pasar Energi Dunia Bergejolak, Konflik Timur Tengah Ancam Harga Minyak 100 Dolar per Barel
DECIMALNEWS.com – Ketegangan yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran mulai mengguncang pasar energi dunia. Konflik yang memanas di kawasan Timur Tengah memicu lonjakan harga minyak karena muncul kekhawatiran pasokan energi global akan terganggu.
Kekhawatiran tersebut muncul karena posisi Iran yang sangat strategis di sekitar Selat Hormuz, salah satu jalur pelayaran minyak paling penting di dunia. Meski produksi minyak Iran hanya menyumbang sekitar 3–4 persen dari total produksi global, hampir 20 persen konsumsi minyak dunia dan sekitar 30 persen perdagangan minyak mentah lewat laut melintasi jalur tersebut. Jika terjadi gangguan di kawasan ini, dampaknya bisa dirasakan langsung oleh pasar energi global.
Pada awal pekan, harga minyak mentah jenis Brent sempat melonjak hingga sekitar 13 persen. Harga bahkan sempat menyentuh kisaran 77 dolar AS per barel sebelum kembali turun. Kenaikan tajam ini dipicu oleh laporan serangan terhadap kapal tanker minyak yang menyebabkan sejumlah kapal menghentikan pelayaran sementara waktu.
Situasi tersebut memicu kekhawatiran akan terganggunya distribusi energi dunia.
Konflik juga berdampak pada fasilitas energi di kawasan Teluk. Perusahaan energi Arab Saudi, Saudi Aramco, dilaporkan menutup kilang minyak domestik terbesarnya setelah terkena serangan drone. Sementara itu, perusahaan energi Qatar, QatarEnergy, juga menghentikan sementara produksi gas alam cair (LNG).
Kondisi ini turut mendorong kenaikan harga gas di pasar internasional, terutama di Eropa yang sangat bergantung pada pasokan LNG dari kawasan tersebut.
Di sisi lain, Iran diketahui memproduksi sekitar 3,3 juta barel minyak per hari dan memiliki sekitar 12 persen cadangan minyak dunia. Meski menghadapi berbagai sanksi internasional, Iran masih mampu meningkatkan ekspor minyak dalam beberapa tahun terakhir, terutama dengan menjual sebagian besar produksinya ke China.
Sejumlah analis memperingatkan bahwa harga minyak bisa melonjak lebih tinggi jika konflik terus meluas.
“Jika konflik berkepanjangan dan benar-benar memengaruhi pasokan minyak, terutama jika terjadi gangguan di Selat Hormuz, harga minyak bisa melonjak hingga sekitar 100 dolar AS per barel,” ujar analis Capital Economics, William Jackson, dikutip dari Deutsche Welle, Selasa (3/3/2026).
Sementara itu, kelompok negara produsen minyak OPEC+ sebenarnya telah sepakat untuk meningkatkan produksi mulai April guna meredam gejolak harga. Namun, langkah tersebut dinilai hanya mampu menahan tekanan untuk sementara.
Jika harga minyak benar-benar menembus angka 100 dolar AS per barel, dampaknya bisa meluas. Inflasi global berpotensi meningkat, sementara pertumbuhan ekonomi dunia juga terancam melambat. (Redaksi/Ptr).

