Manuver Iran di Selat Hormuz Picu “Relief Rally”, Harga Minyak Turun Tapi Belum Stabil
DECIMALNEWS.com – Kepada PBB dan Organisasi Maritim Internasional, Iran justru memberi kabar bahwa Kapal-kapal yang bukan merupakan musuh Negeri Negeri Para Mullah (Iran) dapat melintasi Selat Hormuz jika mereka berkoordinasi dengan otoritas Iran.
Perang AS-Israel melawan Iran hampir menghentikan pengiriman sekitar seperlima minyak dan gas alam cair dunia melalui selat tersebut, menyebabkan gangguan pasokan minyak.
Nota dari Kementerian Luar Negeri Iran tersebut dikirimkan kepada 15 anggota Dewan Keamanan dan Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres pada hari Minggu. Kemudian, nota tersebut diedarkan pada hari Selasa di antara 176 anggota badan pelayaran PBB yang berbasis di London, yang bertanggung jawab untuk mengatur keselamatan dan keamanan pelayaran internasional serta mencegah polusi.
“Kapal-kapal yang tidak bermusuhan, termasuk kapal-kapal milik atau yang terkait dengan negara lain, dapat – dengan syarat bahwa mereka tidak berpartisipasi atau mendukung tindakan agresi terhadap Iran dan sepenuhnya mematuhi peraturan keselamatan dan keamanan yang dinyatakan memperoleh hak untuk melewati Selat Hormuz dengan aman, berkoordinasi dengan otoritas Iran yang berwenang,” demikian bunyi pernyataan tersebut dikutip dari Reuters, Rabu (25/3/2026).
Iran telah “mengambil langkah-langkah yang diperlukan dan proporsional untuk mencegah para agresor dan pendukung mereka memanfaatkan Selat Hormuz untuk memajukan operasi permusuhan terhadap Iran,” demikian bunyi catatan tersebut, menambahkan bahwa kapal, peralatan, dan aset apa pun milik AS atau Israel, “serta peserta lain dalam agresi tersebut, tidak memenuhi syarat untuk melintas secara damai atau tanpa permusuhan.”
Financial Times pertama kali melaporkan bahwa surat tersebut telah diedarkan di antara negara-negara anggota IMO pada hari Selasa.
Berdasarkan analisis, kebijakan Iran membuka kembali Selat Hormuz untuk kapal “non-musuh” adalah sinyal de-eskalasi parsial, tapi dampaknya ke harga minyak tidak sederhana—cenderung dua fase: turun cepat lalu tetap volatile/tinggi.
Saat sempat tertutup, harga memang melonjak karena supply shock besar bahkan sempat tembus kurang lebih $100/barel.
Sejumlah negara termasuk Amerika Serikat terdampak atas kondisi itu, namun begitu pengamat menilai prediksi terbukanya Selat Hormus untuk kapal non musuhnya hanya menghasilkan relief rally yakni kepanikan mereda dan penurunan harga cepat.
Hal itu dikarenakan kapal “non-hostile” yang boleh lewat masih banyak yang tertahan & rute belum normal, risiko serangan & premi asuransi kapal tetap tinggi. (Redaksi)

