China Rajai Cadangan Devisa Dunia, Asia Kuasai 60 Persen Aset Global, AS Justru di Peringkat 13
DECIMALNEWS.com – Cadangan devisa menjadi salah satu benteng pertahanan penting bagi sebuah negara. Saat pasar keuangan sedang bergejolak, mata uang melemah, atau investor asing menarik dananya keluar, cadangan devisa bisa dipakai untuk meredam tekanan.
Berdasarkan data terbaru yang dihimpun dari Dana Moneter Internasional (IMF) dan divisualisasikan oleh Visual Capitalist, ternyata sejumlah negara Asia justru menjadi negara dengan cadangan devisa terbanyak dan bukan Amerika Serikat.
Dari data itu China nyatanya menjadi negara dengan cadangan devisa terbesar di dunia, mencapai US$3,41 triliun. Nilai tersebut hampir tiga kali lipat lebih besar dibandingkan Jepang yang berada di posisi kedua dengan sekitar US$1,26 triliun.
Dominasi Asia bahkan terlihat sangat mencolok. Dari sepuluh besar negara dengan cadangan devisa terbesar, tujuh di antaranya berasal dari kawasan Asia, yakni China, Jepang, Taiwan, India, Hong Kong, Korea Selatan, dan Singapura. Kondisi ini memperlihatkan bagaimana negara-negara Asia membangun bantalan keuangan yang sangat besar untuk menghadapi ketidakpastian ekonomi global.
Asia Belajar dari Krisis 1997
Besarnya cadangan devisa Asia bukan terjadi secara kebetulan.
Banyak ekonom menilai pengalaman pahit saat krisis keuangan Asia 1997-1998 menjadi titik balik kebijakan ekonomi kawasan tersebut. Saat itu, sejumlah negara mengalami tekanan hebat akibat anjloknya nilai tukar mata uang, arus keluar modal asing, hingga harus meminta bantuan lembaga internasional.
Sejak saat itu, banyak pemerintah Asia memilih mengumpulkan cadangan devisa dalam jumlah besar sebagai “tameng” menghadapi gejolak ekonomi di masa depan. Cadangan devisa menjadi instrumen penting bagi bank sentral untuk menjaga stabilitas nilai tukar, membayar impor strategis, memenuhi kewajiban utang luar negeri, sekaligus menjaga kepercayaan investor ketika pasar keuangan bergejolak.
Mengapa China Sangat Dominan?
Keunggulan China berasal dari kombinasi beberapa faktor.
Selama lebih dari dua dekade, Negeri Tirai Bambu menikmati surplus perdagangan yang sangat besar karena menjadi pusat manufaktur dunia. Ekspor yang terus melampaui impor menghasilkan aliran devisa dalam jumlah masif.
Selain itu, China juga menjadi salah satu tujuan utama investasi asing langsung (FDI). Arus modal tersebut menambah pasokan valuta asing yang kemudian dikelola oleh bank sentral sebagai bagian dari cadangan devisa nasional.
Cadangan devisa yang besar memberikan ruang bagi pemerintah China untuk menjaga stabilitas nilai tukar yuan, mengantisipasi gejolak pasar, sekaligus memperkuat posisi negara dalam sistem keuangan internasional.
Amerika Serikat Hanya Peringkat ke-13
Hal yang cukup mengejutkan dalam daftar tersebut adalah posisi Amerika Serikat yang hanya berada di peringkat ke-13 dengan cadangan devisa sekitar US$244,6 miliar.
Namun kondisi ini bukan berarti ekonomi Amerika Serikat lemah.
Sebaliknya, status dolar AS sebagai mata uang cadangan utama dunia membuat Washington tidak perlu menyimpan cadangan devisa sebesar negara-negara lain. Sebagian besar transaksi perdagangan internasional, investasi, hingga pembayaran utang global menggunakan dolar AS.
Artinya, Amerika Serikat memiliki fleksibilitas lebih besar dibandingkan negara lain karena dapat memenuhi kewajiban internasional menggunakan mata uangnya sendiri. Selain itu, nilai tukar dolar juga cenderung dibiarkan bergerak mengikuti mekanisme pasar sehingga kebutuhan intervensi bank sentral relatif lebih kecil dibandingkan negara-negara Asia yang banyak mengandalkan ekspor.
Indonesia Masih di Posisi 20 Dunia
Indonesia memang belum masuk kelompok elite pemilik cadangan devisa terbesar.
Cadangan devisa Indonesia berada di kisaran US$146 miliar, menempatkan Indonesia di peringkat ke-20 dunia. Posisi tersebut masih berada di atas sejumlah negara maju seperti Jerman, Prancis, Italia, Spanyol, hingga Turki.
Meski sempat mengalami penurunan pada Mei 2026 menjadi US$144,9 miliar, level tersebut masih dinilai memadai untuk membiayai impor nasional selama beberapa bulan sekaligus menjaga stabilitas nilai tukar rupiah apabila terjadi gejolak di pasar keuangan global.
Cadangan Devisa Besar Bukan Tanpa Biaya
Di balik manfaatnya, cadangan devisa yang besar juga memiliki konsekuensi.
Sebagian besar aset devisa ditempatkan pada instrumen investasi yang sangat aman, seperti obligasi pemerintah negara maju. Instrumen tersebut umumnya memberikan imbal hasil relatif rendah.
Dengan kata lain, terdapat opportunity cost karena dana yang tersimpan sebagai cadangan devisa tidak seluruhnya dapat digunakan untuk investasi produktif di dalam negeri.
Meski demikian, banyak negara Asia tetap menganggap cadangan devisa sebagai “asuransi ekonomi” yang sangat penting. Pengalaman menghadapi berbagai krisis global membuat negara-negara di kawasan lebih memilih memiliki bantalan keuangan yang besar daripada menghadapi risiko kekurangan likuiditas ketika kondisi ekonomi dunia memburuk. (red)

