Trust Publik Terhadap Prabowo Merosot, Pengamat: Pendukung Istana Berpotensi ‘Berkhianat

Trust Publik Terhadap Prabowo Merosot, Pengamat: Pendukung Istana Berpotensi ‘Berkhianat

DECIMALNEWS.com – Seorang pengamat politik Tony Rosyid di sebuah rubrik media tanah air Rakyat Merdeka menyebut turunnya tingkat kepercayaan publik berdasar survei dua lembaga, yakni SMRC dan Indikator menjadi sinyal bahanya untuk sang Presiden, Jumat (31/7/2026).

Toni menyebut dari Survei SMRC semi terbuka (5-19 Juli): Prabowo dikalahkan Dedi Mulyadi yang meraup 35 persen, dimana Prabowo Subianto hanya 14,5 persen, disusul Anies Baswedan 8,2 persen.

Sedangkan Gibran Rakabuming Raka 7,7 persen, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) 4,9 persen dan Ganjar Pranowo 4,2 persen.

Sementara hasil survei semi terbuka Indikator (14-24 Juli): Dedi Mulyadi 32,4 persen, Prabowo 18,8 persen dan Anies Baswedan 11,6 persen. Sementara Gibran 5,9 persen, AHY 5,8 persen dan Ganjar Pranowo 4,5 persen.

Kedua survei ini kata dia menunjukkan bahwa elektabilitas Dedi Mulyadi berada di posisi teratas. Tony memang cukup ragu,

“Apakah ini kinerja Dedi Mulyadi seorang diri, atau ada tokoh besar yang sedang memainkannya?,” ujarnya.

Dia mengungkap berdasar pengamatanya terhadap politik nasional, memang ada rumor yang beredar bahwa Dedi Mulyadi mulai berseteru dengan elite Gerindra.

“Bahkan kabarnya akan balik ke Golkar. Ketum Golkar adalah Bahlil. Dan Bahlil adalah orang kepercayaan Jokowi. Jika info ini valid, tentu bukan sebuah kebetulan,” terangnya dikutip, Jumat (31/7/2026).

Turunnya tingkat kepuasan dan elektabilitas Prabowo lanjut dia akan berpotensi membawa konsekuensi cukup serius.

Di antaranya adalah pertama, kekuasaan Prabowo akan semakin kehilangan trust dan legitimasi publik.

Kedua, melemahnya Prabowo mendorong kekuatan di luar Prabowo akan semakin bersemangat untuk melakukan konsolidasi yang lebih intens.

Ketiga, pendukung Prabowo, terutama kelompok moderat, pragmatis dan oportunis akan mulai dihinggapi keraguan.

“Tidak menutup kemungkinan hasil survei SMRC dan Indikator ini akan mendorong sejumlah pendukung istana berkhianat,” tukasnya.

Dalam sejarah lanjutnya, kekuasaan yang melemah selalu melahirkan pengkhinatan. Pengkhianatan menjadi salah satu anak kandung dari melemahnya kekuasaan.

Keempat, tiga efek di atas berpotensi menciptakan kepanikan sehingga lahir sikap politik dan kebijakan yang blunder.

Prabowo Disarankan Ambil Langkah Radikal Jika Perlu

Situasi ini tentu kata Tony harus direspon jika tidak mau blunder, Prabowo dan lingkaran istana mesti mengambil langkah-langkah strategis, bahkan bila perlu ambil langkah radikal.

“Kalau tetap merasa aman dan tidak melakukan langkah-langkah strategis, maka ancaman akan semakin mendekati kenyataan. Apa langkah-langkah strategis yang bisa dilakukan Prabowo?

Tiga Opsi Ganti Kapolri dan Panglima TNI, Rangkul PDI dan Anies Baswedan

Pertama, ganti sejumlah orang di struktur kekuasan dengan SDM yang lebih profesional. Tidak hanya di jajaran kementerian, tapi juga di sejumlah lembaga dan BUMN.

Ini dalam rangka mengembalikan trust publik. Termasuk mengganti Kapolri dan Panglima TNI yang sudah terlalu lama menjabat, agar terjadi penyegaran di dua instutusi ini.

Kedua, ajak gabung kekuatan-kekuatan politik yang selama ini masih berada di luar koalisi. Ada dua kekuatan signifikan di luar istana yaitu PDIP sebagai partai pemenang dan Anies Baswedan.

Berikan 3-5 menteri buat PDIP. Karena PDIP tidak mau bergabung jika ada orang-orang Jokowi di istana, maka tak ada pilihan lain kecuali mengganti orang-orang Jokowi dengan PDIP. Ini pilihan sulit yang tentu masing-masing punya konsekuensinya.

Jika Anies Baswedan dijadikan Mensesneg atau Seskab misalnya, keadaan Prabowo ada kemungkinan bisa berubah.

Anies, selain punya pendukung dalam jumlah besar dan cukup militan, secara skill bisa ditugaskan untuk mengorkestrasi kementerian dan lembaga negara agar bisa biekerja lebih profesional.

Tentu, tidak mudah menggandeng Anies. Belum tentu Anies sendiri mau, juga pasti penolakan di internal istana juga tidak kecil.

Seorang pemimpin akan selalu dihadapkan pada tantangan. Tantangan yang berat adalah ketika menghadapi dilema.

Jika dilema terus dibiarkan, maka seorang pemimpin lambat laun akan melemah dan pada akhirnya tumbang.

Apakah Prabowo akan tegas bersikap terhadap dilema-dilema itu? Terutama dilema dalam menghadapi Geng Solo. (Redaksi)

Bagikan artkel ini: