Kemenkeu Gelar Edukasi Literasi Keuangan SBR015T2 dan SBR015T4 di Makassar 

Kemenkeu Gelar Edukasi Literasi Keuangan SBR015T2 dan SBR015T4 di Makassar 
Decimalnews.com — Kementerian Keuangan melalui Direktorat Surat Utang Negara, Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR), bersama Perwakilan Kementerian Keuangan Provinsi Sulawesi Selatan menyelenggarakan kegiatan Edukasi Literasi Keuangan dan Sosialisasi Savings Bond Ritel (SBR) seri SBR015T2 dan SBR015T4.
Kegiatan tersebut berlangsung di Aula Rongkong, Gedung Keuangan Negara (GKN) II Makassar, Minggu 19 Oktober 2026.
Kegiatan ini diikuti sekitar 150 peserta secara luring yang berasal dari unit vertikal Kementerian Keuangan di Makassar dan sekitarnya, satuan kerja Kementerian/Lembaga mitra kerja KPPN Makassar, instansi pemerintah, Bank Indonesia, Otoritas Jasa Keuangan, serta Lembaga Penjamin Simpanan.
Kepala Kantor Wilayah DJBC Sulawesi Bagian Selatan selaku Kepala Perwakilan Kementerian Keuangan Provinsi Sulawesi Selatan, Martha Octavia, dalam sambutannya menyoroti kesenjangan antara inklusi dan literasi keuangan yang kerap membuat masyarakat terjerat pinjaman online ilegal, judi online, maupun investasi bodong.
Dengan mengangkat falsafah Bugis-Makassar _sipakatau, sipakainge, sipakalebbi_, ia mengajak ASN Kementerian Keuangan menjadi duta literasi keuangan dan saling mengingatkan keluarga serta rekan untuk memilih instrumen investasi yang aman, sebelum secara resmi membuka kegiatan.
Dalam _keynote speech_-nya, Kepala Subdirektorat Program dan Manajemen Pengetahuan Direktorat Surat Utang Negara, Arif Prabowo Sulistiono, memaparkan peran APBN sebagai alat untuk mencapai tujuan pembangunan.
“Defisit APBN dipenuhi melalui pembiayaan anggaran, antara lain melalui penerbitan Surat Berharga Negara. Utang merupakan alat, bukan tujuan. Pembiayaan melalui utang diperlukan agar pemerintah dapat menjalankan fungsi penting dan mendesak dengan lebih cepat, menjaga momentum pembangunan, sekaligus berbagi beban secara adil antargenerasi,” jelasnya.
Ia menambahkan bahwa utang dikelola secara _prudent_, yang tercermin dari rasio utang terhadap PDB Indonesia yang relatif rendah dibandingkan sejumlah negara kawasan dan negara berkembang lainnya.
Sesi pemaparan materi dipandu oleh Renaldo Christian Gideon, Analis Keuangan Negara Ahli Muda Direktorat Surat Utang Negara, dengan Rena Mustika Tresna, Analis Keuangan Negara Ahli Muda Direktorat Surat Utang Negara, selaku narasumber.
Rena mengulas SUN ritel sebagai instrumen investasi yang dirancang khusus bagi individu Warga Negara Indonesia, dengan tujuan memperluas basis investor domestik dan mewujudkan kemandirian pembiayaan pembangunan.
“SBR015 aman karena pembayaran kupon dan pokoknya dijamin oleh Undang-Undang. Kuponnya mengambang dengan tingkat kupon minimal (floating with floor), dibayarkan setiap bulan, dan dapat dibeli mulai Rp1 juta,” ujar Rena.
Ia juga menjelaskan bahwa SBR015 tidak dapat diperdagangkan di pasar sekunder, namun investor dapat mengajukan pencairan lebih awal (_early redemption_) maksimal 50 persen dari kepemilikan, serta menguraikan tahapan pemesanan secara online, mitra distribusi, dan kanal pembayaran.
Melalui kegiatan ini, Kementerian Keuangan berharap literasi keuangan ASN dan masyarakat di Sulawesi Selatan semakin meningkat dan mendorong terbentuknya perilaku finansial yang bijak dalam memilih instrumen investasi yang aman dan terpercaya. (Rls)
Bagikan artkel ini: