Masuk Sebagai Kota Toleran, Makassar Kini Miliki Gerbang Moderasi Indonesia Pertama

Masuk Sebagai Kota Toleran, Makassar Kini Miliki Gerbang Moderasi Indonesia Pertama

DECIMALNEWS.com – Wali Kota Makassar, Munafri Arifuddin, mendampingi Menteri Agama RI, Nasaruddin Umar, melakukan peletakan batu pertama pembangunan Gerbang Moderasi Indonesia di kawasan Bumi Tamalanrea Permai (BTP) Blok AC Telkom, Kelurahan Barua, Kecamatan Biringkanaya Kamis kemarin.

Pembangunan Gerbang Moderasi Indonesia tersebut menjadi simbol penguatan nilai-nilai toleransi dan kerukunan antarumat beragama dalam lngkungan organisasi masyarakat yang dimulai di Kota Makassar.

Peletakan batu pertama juga dilakukan Rektor UIN Alauddin Makassar yang juga Staf Ahli Menag RI, Prof. Hamdan Juhannis, Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Sulawesi Selatan, Ali Yafid, CEO Founder Kabar Grup Upi Asmaradhana, serta Kepala Kantor Kementerian Agama Kota Makassar, Muhammad.

Dalam berbagai acara tersebut, Munafri menyampaikan apresiasi atas terpilihnya Kota Makassar sebagai lokasi pertama pembangunan Gerbang Moderasi Indonesia. Ia menuturkan, kehadiran gerbang tersebut sejalan dengan komitmen Pemerintah Kota Makassar dalam memperkuat nilai keberagaman dan toleransi di tengah masyarakat.

Dihadapan Menag RI, Wali kota yang akrab disapa Appi ini juga mengungkapkan, indeks toleransi Kota Makassar telah menunjukkan peningkatan yang signifikan. Dari sebelumnya berada di peringkat ke-49, kini Makassar berhasil masuk dalam sembilan besar kota paling toleran di Indonesia.

“Alhamdulillah, kini Kota Makassar berada di peringkat sembilan. Ini merupakan hasil kerja bersama seluruh pihak, termasuk Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB), yang terus membangun komunikasi dan pendekatan di tengah masyarakat,” ujarnya.

Ditegaskannya, pencapaian tersebut menjadi modal penting mengingat Makassar merupakan pintu gerbang Indonesia Timur dengan tingkat mobilitas ekonomi, sosial, dan budaya yang sangat tinggi.

Ia juga menceritakan bahwa kawasan BTP memang menjadi contoh nyata kehidupan masyarakat yang multietnis dan multikeyakinan. Di kawasan tersebut berdiri rumah ibadah dari berbagai agama yang hidup berdampingan secara harmonis.

“Dan khususnya di daerah BTP ini, kami laporkan Pak Menteri, bahwa di sini pemukiman yang sangat multi-etnis. Di sini ada gerejanya, ada masjidnya, ada puranya,” urainya.

Sebagai bentuk komitmen, Pemerintah Kota Makassar, kata dia, akan menginisiasi pembangunan Gerbang Moderasi Indonesia di sejumlah titik lainnya agar semangat toleransi dapat tumbuh mulai dari lingkungan RT dan RW.

“Ini menjadi tanggung jawab kami setelah pencanangan hari ini. Kami akan menghadirkan gerbang-gerbang moderasi di beberapa lokasi sebagai upaya memperkuat nilai keberagaman hingga ke tingkat masyarakat paling kecil,” jelasnya.

Appi juga memastikan pemerintah akan segera membenahi akses jalan menuju lokasi pembangunan gerbang. Ia mengaku tidak ingin simbol moderasi tersebut berdiri tanpa didukung infrastruktur yang memadai.

“Hari ini Dinas PU sudah turun melakukan pengawasan. Kami ingin memastikan infrastruktur menuju kawasan ini juga semakin baik. Saat ini tingkat kemantapan jalan Kota Makassar sudah berada di atas 97 persen dan akan terus kami tingkatkan,” ungkapnya.

Sementara itu, Menag RI, Nasaruddin Umar, menekankan bahwa pembangunan Gerbang Moderasi Indonesia bukan sekedar menghadirkan monumen fisik, melainkan simbol yang menghidupkan nilai-nilai persatuan dalam kehidupan sehari-hari masyarakat.

Ia menjelaskan, pemilihan lokasi pembangunan yang berada di kawasan organisasi justru memiliki makna strategis karena masyarakat akan berinteraksi langsung dengan simbol moderasi tersebut setiap hari.

“Kehadiran monumen kebersamaan seperti ini jangan dilihat dari besar kecil tempatnya, tetapi dari dampaknya. Ketika dibangun di tengah organisasi, setiap orang yang melihatnya akan selalu diingatkan bahwa kita semua adalah satu, tidak ada perbedaan di antara kita,” ujarnya.

Ia berharap Gerbang Moderasi Indonesia di Makassar menjadi ikon persatuan yang menginspirasi daerah lain sehingga monumen serupa dapat dibangun di berbagai kabupaten dan kota sebagai simbol pemersatu bangsa.

“Dan saya berharap monumen ini nanti menjadi kekuatan simbolik, ikonik di Kota Makassar, apalagi ini yang pertama. Kita akan menyaksikan disetiap kabupaten kabupaten ada monumen-monumen seperti ini sebagai simbol pemersatu,” harapnya.(Rls)

Bagikan artkel ini: