Kata Pak Kyai “Ajatappareng itu Satu Rumah 5 Kamarnya”

Kata Pak Kyai “Ajatappareng itu Satu Rumah 5 Kamarnya”

Sejarah Persekutuan Lima Ajatappareng dan Potret Kehidupan Berkebangsaan menjadi tema sentral Dialog Sejarah dan Wawasan Kebangsaan Kementerian Keuangan di Parepare. 

Prof Dr Hannani Yunus MAg, Rektor IAIN yang didaulat sebagai narasumber Dialog Sejarah dan Wawasan Kebangsaan mengulas asal mula terbentuknya Ajatappareng, di KPPN Parepare Senin (18/12) lalu.

Pak Kyai (panggilan akrab rektor IAIN) merupakan tokoh masyarakat berdarah bugis yang sudah puluhan tahun mengabdi sebagai dosen di IAIN. Sehingga dengan pengalaman sejak lahir dan literasi selama mengajar, dapat membawakan materi dengan baik tentang sejarah dan perikehidupan masyarakat Ajatappareng dari abad ke abad.

Ajatappareng berasal dari kata Aja dan Tappareng. Aja artinya Barat, Tappareng artinya danau. Sehingga Ajatappareng berarti sebuah kawasan di bagian barat danau di Sulawesi Selatan yang meliputi wilayah historis dari persekutuan lima kerajaan. Ajatappareng menjadi kekuatan yang berpengaruh di Sulawesi Selatan hingga kemundurannya pada abad ke-17. Bekas konfederasi ini kini menjadi bagian dari beberapa kabupaten dan kota di Sulawesi Selatan. 

Ajatappareng merupakan persekutuan yang dibentuk dalam rangka menjalin kerjasama antar kerajaan untuk mewujudkan kesejahteraan dan ketentraman di wilayah Ajatappareng. Pembentukan ini bukan hanya dilatari oleh meningkatnya persaingan antar kerajaan dalam mengontrol perdagangan dan lahan pertanian, melainkan juga karena terjadinya penurunan ekspor seiring dengan meningkatnya permintaan luar atas barang-barang dari wilayah Ajatappareng. 

Persekutuan ini bukan hanya semakin mengukuhkan kedudukan Suppa sebagai bandar niaga komoditi ekspor terutama beras, tetapi juga melapangkan terbangunnya kekuatan maritim yang tangguh dan berhasil menaklukkan sejumlah daerah pesisir di sepanjang pantai barat Sulawesi.

Itulah sebabnya bandar niaga ini semakin ramai didatangi oleh pedagang, termasuk pedagang Melayu sehingga Ajatappareng memiliki kedudukan penting dalam perdagangan maritim pada abad ke-16. Selain itu, perjanjian yang mendasari terbentuknya persekutuan ini juga mengandung nilai persaudaraan, kesetaraan, kebersamaan, toleransi, persatuan dan kesatuan.

Prof Hannani menjadi narasumber dialog Sejarah dan wawasan kebangsaan di KPPN parepare
Prof Hannani menjadi narasumber dialog Sejarah dan wawasan kebangsaan di KPPN parepare

Dalam paparnnya pak Kyai juga menyampaikan bahwa Penaklukan Melaka oleh Portugis (1511) menyebabkan beralihnya sebagian besar pedagang, terutama pedagang Muslim, ke bandar bandar baru yang bebas dari pengaruh Eropa. Termasuk di antaranya bandar-bandar di bagian barat jazirah Sulawesi Selatan, seperti Siang, Tallo, Somba Opu, dan Bacukiki (Suppa). 

” Konfederasi ini didirikan pada saat yang sama dengan atau sebelum pembentukan persekutuan Tellumpoccoe; beberapa sumber menyebut 1523, 1540, hingga 1582 dicirikan dalam ikrar pembentukan sebagai “satu rumah lima kamarnya,” yang ditafsirkan sebagai satu bangsa dengan lima anggota konfederasi Ajatappareng berkembang menjadi kekuatan politik yang berpengaruh besar di Sulawesi, menggunakan kekuatan maritimnya untuk menyokong Suppa sebagai bandar niaga utama. (Druce, 2009)” pungkasnya (*)

Bagikan artkel ini: