I’tikaf Sepuluh Hari terakhir Ramadhan Dicontohkan Nabi Muhammad SAW Sepanjang Hayat
Decimalnews.com – Bulan Ramadhan adalah bulan yang penuh rahmat, berkah dan ampunan bagi seluruh umat Islam. Hari ini, (1/4) bertepatan dengan tanggal 21 Ramadhan dimana merupakan kebahagiaan tersendiri bagi umat muslim untuk memanfaatkan momen istimewa guna mendekatkan diri kepada Allah SWT. Salah satu momen itu adalah melakukan i’tikaf di masjid di 10 hari terakhir ramadhan.
I’tikaf sendiri berasal dari bahasa Arab yang artinya mengikat atau menjaga. I’tikaf merupakan ibadah yang dilakukan dengan cara berdiam diri di dalam masjid untuk waktu tertentu dengan tujuan mendekatkan diri kepada Allah SWT. I’tikaf dilakukan dengan niat yang tulus dan dilakukan dengan mengikuti tata cara yang telah ditetapkan oleh syariat Islam. Berikut ini adalah tadabbur ayat tentang I’tikaf yang dipandu oleh Ustadz Dr. H. Bambang Heru Suhartono, S.Sos., M.Si. Beliau merupakan pejabat pengawas di Kantor Pelayanan Bea Cukai Tipe Madya Pabean A Jakarta.
I’tikaf itu di Masjid
Sebuah ayat dalam al-qur’an: “Dan janganlah kamu mencampuri mereka (isterimu) sedang kamu i’tikaf di masjid. Itulah batasan-batasan Allah, janganlah kamu mendekatinya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayatNya kepada manusia agar mereka bertakwa”. (Al-Baqarah: 187)
Petikan terakhir ayat 187 menjadi penutup dari ayat-ayat yang berbicara tentang ibadah puasa. Semua tuntunan dan batasan Allah swt (hudud) adalah dalam rangka mentakwakan manusia “la’allakum tattaquun”
Ayat ini juga menerangkan bahwa Allah SWT melarang orang yang sedang beri’tikaf untuk bercampur dengan istrinya. Tujuannya agar dapat lebih khusyu’ beri’tikaf. Padahal berhubungan suami istri dibolehkan jika tidak sedang i’tikaf
Karenanya, i’tikaf pun dijalankan di masjid, masjid yang biasa digunakan untuk shalat berjama’ah atau shalat jum’at. Demikian karunia Allah swt kepada hamba-hambaNya untuk menjalankan ibadah i’tikaf di sepuluh malam terakhir Ramadhan.
Rasulullah SAW mencontohkan selalu beri’tikaf sepuluh hari di akhir Ramadhan sepanjang hayat baginda Nabi Muhammad SAW.

I’tikafmu untuk Tuhanmu
Ayat diatas ( Al Baqarah:187) juga menerangkan bahwa i’tikaf itu hanya untuk Allah SWT. Sehingga keluar dari tempat i’tikaf (masjid) untuk bercampur dengan istrinya menjadikan batal i’tikafnya.
Diantara yang membatalkan i’tikaf adalah bercampur antara suami isteri. Karena orang yang i’tikaf sepenuhnya sedang bersama Allah swt; beribadah, bermohon dan bermunajat hanya kepadaNya.
Rasulullah SAW mengencangkan kainnya di sepuluh malam terakhir, dalam arti tidak mencampuri isteri-isteri beliau. Isteri-isteri Nabi pun diriwayatkan melakukan i’tikaf dengan membuat tenda-tenda, untuk menghindari fitnah.
Orang yang i’tikaf sedang dilatih ‘tahannuts’ (menyepi, menyendiri) dengan Allah swt, dengan memperbanyak ibadah.Ya Rabb, terimalah i’tikaf kami. Pertemukan kami dengan Lailatul QadarMu..Aamiin (*)

