Shutdown Pemerintah Memicu Krisis di Sektor Penerbangan AS

Shutdown Pemerintah Memicu Krisis di Sektor Penerbangan AS

Decimalnews.com – Pemerintahan Amerika Serikat (AS) resmi mengalami shutdown sejak Rabu (1/10/2025) waktu setempat. Kebuntuan antara Partai Republik dan Demokrat di Kongres soal rancangan undang-undang (RUU) pendanaan sementara membuat aktivitas pemerintahan federal lumpuh.

Teranyar, setelah ancaman PHK massal kini penerbangan AS lumpuh sebagian.

Ribuan penerbangan ditunda dan gangguan layanan mencuat di berbagai bandar udara utama, imbas kekurangan staf pengatur lalu lintas udara (air traffic controllers) dan tenaga keamanan bandara.

Penundaan Penerbangan Meluas

Ribuan penerbangan tertunda: Hingga Rabu, 8 Oktober 2025, hampir 3.000 penerbangan ditunda, setelah dua hari sebelumnya mencatat puluhan ribu penundaan.

Di banyak bandara besar seperti Newark Liberty, Bandara Nasional Reagan Washington, Houston, Chicago O’Hare, dan Dallas, kendala staf menyebabkan backlog dan perlambatan operasional.

Di bandara seperti Chicago O’Hare, jumlah kedatangan per jam dikurangi untuk menjaga keamanan, menyebabkan keterlambatan rata-rata 41 menit.

Kekurangan Staf & Tekanan Shutdown

Penyebab utama, dilansir dari banyak sumber, menyebut banyak pengatur lalu lintas udara memilih tidak hadir karena tak menerima gaji selama masa shutdown.

Menurut Menteri Transportasi AS, Sean Duffy, kasus ketidakhadiran petugas melonjak, dari 5% keterlambatan karena staf menjadi sekitar 53% dalam situasi sekarang.

Tekanan kerja tinggi dan kekhawatiran terhadap stabilitas keuangan membuat beberapa pengatur lalu lintas udara mengambil cuti sakit atau memilih absen.

Meski begitu sektor keamanan bandara (TSA) dan petugas federal lain yang dianggap esensial tetap bekerja walaupun belum dibayar, sebagai bagian dari kebijakan untuk menjaga fungsi minimal layanan publik.

Asosiasi Perjalanan AS memperkirakan kerugian bisa mencapai USD 1 miliar per minggu jika shutdown berlanjut panjang.

Karenanya perlu perhatian serius untuk meredam situasi. Apalagi situasi ini juga pernah terjadi pada shutdown 2019, ketika pengurangan staf juga membuat antrean imigrasi memanjang dan operasi bandara terganggu. (Redaksi)

Bagikan artkel ini: