BMKG Ungkap Penyebab Banjir Sumatera, Hujan Sebulan Tumpah Dalam Beberapa Hari

BMKG Ungkap Penyebab Banjir Sumatera, Hujan Sebulan Tumpah Dalam Beberapa Hari

DECIMALNEWS.com – Banjir bandang dan longsor di Aceh, Sumatera Utara dan Sumatera Barat memprihatinkan, tercatat hingga hari ini sudah 442 warga meninggal dunia, dan 402 masih belum ditemukan.

Banjir bandang ini diakui terjadi akibat hujan lebat yang tidak bisa ditampung tanah di Sumatera.

Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Teuku Faisal Fathani mengungkap penyebab bencana banjir bandang hingga longsor di tiga provinsi Sumatera. Faktor utama penyebab derasnya hujan pada 25-27 November 2025 lantaran kemunculan fenomena siklon tropis senyar di sekitar Aceh, Sumatera Utara, hingga Sumatera Barat.

“Tertangkap curah hujan pada 25 November, 26 November, hingga 27 November itu sampai hitam warnanya, itu sangat ekstrem,” ucap Faisal di rapat Komisi V DPR, Kompleks Parlemen, Jakarta, Senin (1/12/2025).

Kata Faisal volume hujan pada tiga hari itu seharusnya merupakan volume rata-rata dalam satu bulan. Namun tumpah dalam beberapa hari.

“Bahkan tertinggi ada yang 411 mm per hari di Kabupaten Bireuen. Ini bahkan lebih tinggi dari hujan bulanan di sana, mungkin 1,5 bulan ya. Jadi ini tumpah dalam satu hari dan bayangkan itu terjadi selama tiga hari,” jelasnya.

“Nah ini yang menyebabkan bencana hidrometeorologi memang sangat masif terjadi karena tanah kemudian tidak mampu atau lahan tidak mampu dalam menahan tumpahan air hujan yang demikian banyak hingga terjadilah banjir bandang, longsor, dan banjir ya,” tutur dia.

Dalam kesempatan itu BMKG bersama BNPB, Basarnas, hingga Kementerian Dalam Negeri perlu lebih mengantisipasi fenomena siklon tropis untuk ke depannya.

Dikabarkan sudah 442 warga meninggal dunia, dan 402 masih belum ditemukan.

Kendala utama adalah tebalnya lumpur dan banyak korban yang terseret air menuju aliran sungai.

Kisah Pilu Erik Mencari Ibunya, Temukan Jasad Masih Bermukena

Sementara itu dilansir dari CNN Indonesia, salah seorang warga Palembayan, Kabupaten Agam menceritakan bagaimana kesedihannya melihat bencana banjir yang merenggut ibunya.

Kata Dia, pada 24 November dirinya memang berencana pergi ke Pasaman untuk bekerja namun dilarang sang Ibu karena hujan deras masih intens.

“Tanggal 24 saya minta izin untuk pergi ke Pasaman untuk bekerja kepada mama. Karena cuaca sering hujan, saya tidak diizinkan pergi dan baru boleh berangkat pada tanggal 27,” katanya dilansir dari CNN.

Hanya saja pada tanggal 27 November kabar banjir didengarnya. Dia yang tinggal sekitar 8 KM dari rumah sang ibu lantas bergegas ke Palembayan.

“Saat saya sampai di persimpangan, saya melihat air dan lumpur sudah menggenangi lokasi itu. Batu-batu besar saya lihat juga banyak di aliran sungai,” katanya.

Erik mengatakan, saat itu dia seperti kehilangan diri, pasalnya Rumah ibunya sudah tidak lagi kelihatan ditenggelamkan air.

ia masih berharap sang ibu selamat dari air bah itu.

“Setelah menunggu beberapa menit, saya dapat kabar bahwa mama saat itu masih berada di dalam rumah dan rumah sudah hancur oleh air,” katanya.

Mendengar kabar itu, Erik langsung berupaya mencari tahu informasi soal keberadaan ibunya yang dinyatakan hilang saat bencana itu terjadi.

Erik mencoba menembus lumpur setinggi dada untuk mencari tahu keberadaan ibunya.

“Saat hari kejadian itu, saya mencoba mencari tahu keberadaan mama. Setiap ada penemuan jenazah, saya terus melihat wajah jenazah yang ditemukan itu,” katanya.

Ternyata, tidak hanya sang ibu yang menjadi korban dalam bencana itu. Adik dan tiga keponakannya juga dikabarkan hilang dan kemungkinan meninggal dunia.

“Keesokan harinya saya mendapat kiriman foto bahwa jenazah satu keponakan saya ditemukan sekitar tujuh kilometer dari rumah dan sudah berada dalam kantong jenazah,” katanya.

Usai menjemput jenazah keponakannya itu, ia kemudian merasa panik. Dia bahkan menego pekerja alat berat untuk membuka jalur mencari ibunya.

Pada Sabtu sore menjelang malam, Erik ikut membantu operator alat berat itu untuk mencari keberadaan ibunya di bekas rumah miliknya tersebut.

Hingga malam harinya upaya Erik masih belum membuahkan hasil. Ia terpaksa menghentikan pencarian karena khawatir tidak terlihat dan akan berakibat fatal terhadap jasad sang ibu.

“Kami memutuskan untuk melanjutkan pencarian bersama tim Basarnas tadi pagi. Kami kembali melakukan pencarian di lokasi yang sama menggunakan ekskavator,” katanya.

Kurang lebih 3 jam melakukan pencarian, akhirnya Erik dapat bertemu sang ibu yang keadaannya sudah terkubur puing-puing rumah dan terjepit diantara puing itu.

Tim Basarnas yang sudah melihat adanya jenazah langsung turun tangan untuk mengevakuasi jasad Ernita yang berada di bawah puing rumah yang sudah hancur dihantam galodo.

“Jasad mama ditemukan masih menggunakan mukena yang digunakan saat kejadian. Dari informasi suami adik saya yang selamat, saat itu mama sedang salat di dalam rumah,” lanjutnya.

“Jasad mama tidak ada yang luka dan kaki mama juga masih bisa diluruskan. Saya juga bisa melipatkan tangan mama bagaimana selayaknya,” ungkapnya.

Jasad Ernita yang ditemukan dalam keadaan tak bernyawa diperlakukan berbeda karena yang melakukan pencarian langsung anggota keluarga dan Basarnas.

Setelah dievakuasi, mayat Ernita langsung dibawa ke musala yang terletak sekitar satu kilometer dari lokasi pencarian untuk langsung dimakamkan di pemakaman keluarga. (Redaksi)

 

Bagikan artkel ini: