SoftBank Gelontorkan 376 Triliun untuk Artificial Intelligence, Era Kecerdasan Buatan di Pasar Keuangan Dimulai

SoftBank Gelontorkan 376 Triliun untuk Artificial Intelligence, Era Kecerdasan Buatan di Pasar Keuangan Dimulai

DECIMALNEWS.com – Artificial Intelligence AI nampaknya akan semakin berkembang pesat, belum lama ini salah satu lembaga keuangan menginvestasikan sejumlah uang untuk pengembangan lebih mutakhir AI.

SoftBank dikabarkan telah menuntaskan komitmen investasinya senilai 40 miliar dollar AS atau sekitar Rp 670 triliun (kurs Rp 16.750 per dollar AS) ke OpenAI.

Raksasa investasi asal Jepang itu mengucurkan dana tahap akhir sebesar 22 miliar hingga 22,5 miliar dollar AS, setara Rp 368,5 triliun hingga Rp 376,9 triliun, pada pekan lalu, dilansir Rabu (31/12/2025).

Sebelumnya, SoftBank telah menanamkan modal 7,5 miliar dollar AS atau sekitar Rp 125,6 triliun ke pengembang ChatGPT serta menyertakan tambahan 11 miliar dollar AS atau sekitar Rp 184,3 triliun melalui investor mitra.

Dalam siaran pers, SoftBank menyebut total komitmen investasinya mencapai 41 miliar dollar AS atau sekitar Rp 686,8 triliun, yang membuat kepemilikan sahamnya di OpenAI berada di kisaran 11 persen.

CNBC pada Februari lalu melaporkan bahwa SoftBank tengah memfinalisasi investasi senilai 40 miliar dollar AS (Rp 670 triliun) ke perusahaan kecerdasan buatan yang dipimpin Sam Altman tersebut, dengan valuasi pra-pendanaan (pre-money valuation) mencapai 260 miliar dollar AS atau sekitar Rp 4.355 triliun.

Dalam beberapa bulan terakhir, perusahaan-perusahaan global gencar menggelontorkan belanja besar untuk memperkuat infrastruktur teknologi seiring melonjaknya kebutuhan komputasi dan solusi berbasis kecerdasan buatan.

OpenAI sendiri telah mengantongi komitmen investasi infrastruktur lebih dari 1,4 triliun dollar AS, setara sekitar Rp 23.450 triliun, untuk beberapa tahun ke depan, termasuk melalui kerja sama dengan produsen chip Nvidia.

Diketahui AI saat ini telah mampu mengalahkan manusia dalam hal membaca dan menyajikan data yang banyak secara baik. Dimana pada masa sebelum kemunculan AI, seorang investor yang handal mengandalkan pengalaman, naluri, dan kesabaran.

Saat ini AI mampu menggunakan algoritma machine learning untuk memprediksi tren harga saham, mengatur portofolio, dan dapat melakukan transaksi secara otomatis. Hasilnya, AI mampu memproses data jauh lebih cepat dibandingkan manusia.

Mesin-mesin super cepat tersebut bekerja dibalik layar pada saat melakukan pembelian dan penjualan saham dalam waktu milidetik sehingga mampu menghasilkan keuntungan selisih harga sekecil berapapun dengan kuantitas yang besar.

Kendati begitu, Haryanto Tanuwijaya, dari STIKOM Surabaya menganggap AI memang belum cukup sempurna.

Kata Dia bagaimanapun, AI tetaplah tools belaka yang bekerja dan menjadi canggih tergantung pada data yang diinputkan padanya.

“Di dunia TI ada istilah: “Garbage in, garbage out.” Artinya, apabila data yang dimasukkan sampah atau salah, maka hasil analisis AI juga akan salah atau menyesatkan,” ungkapnya dilansir 31 Desember 2025.

Hal tersebut lanjutnya telah terbukti pada saat pandemi COVID-19 melanda di awal 2020. Hampir semua model AI gagal memprediksi dampaknya terhadap pasar global.

“Mengapa? Jawabannya tidak lain tidak bukan, karena tidak ada data historis yang serupa pandemi COVID-19 yang terjadi awal 2020 sehingga AI tidak mampu memperoleh data masukan apa yang telah pernah terjadi dan pada akhirnya gagal memprediksi dampaknya,” ungkapnya.

Bukan hanya itu, AI juga sangat rentan terhadap manipulasi data.

Apabila seseorang dengan maksud tertentu menyebarkan berita palsu di media sosial, maka hal tersebut dapat memicu algoritma pada AI reaksi secara otomatis melakukan penjualan besar-besaran berakibat timbulnya flash crash di pasar saham sebagaimana terjadi pada tahun 2010 ketika indeks Dow Jones tiba-tiba anjlok lebih dari 1.000 poin hanya dalam beberapa menit.

Mengutip apa yang dikatakan Albert Einstein, “The human spirit must prevail over technology.” Dalam dunia investasi, apa yang dikatakan Albert Einstein bermakna bahwa manusia harus tetap jadi pengendali, bukan sekadar penonton yang bergantug sepenuhya pada mesin dengan algoritmanya.

Bagi investor pemula, kemunculan robo-advisors seperti Bibit, Ajaib, Betterment, dan Wealthfront memang sangatlah membantu. Robo-advisors memungkinkan siapa pun memulai investasi hanya dengan beberapa klik dan modal minim. Tools ini dapat secara otomatis menyusun portofolio sesuai dengan profil risiko penggunanya.

Namun, yang harus diingat, robo-advisors tetaplah robot. Mereka tidak punya intuisi, tidak bisa membaca dinamika sosial politik, dan tentu tidak bisa memahami tujuan hidup pribadi manusia. Bisa saja pada saat pasar sedang panik, algoritma justru menyarankan kita menjual, padahal itulah saat terbaik untuk membeli. (Redaksi)

Bagikan artkel ini: