Prabowo Tak Khawatirkan Krisis Minyak Dunia, Data Ini Bongkar Kenapa Indonesia Tak Panik

Prabowo Tak Khawatirkan Krisis Minyak Dunia, Data Ini Bongkar Kenapa Indonesia Tak Panik

DECIMALNEWS.com – Ditengah melonjaknya harga minyak dunia (USD 74 – USD 92 per barel) Presiden Prabowo menunjukkan sikap atau gestur biasa saja, tenang meski banyak Menterinya menggembar-gemborkan masalah tersebut.

Masalah efisiensi termasuk melakukan Work From Home dan Work From Anywhere digembar-gemborkan.

Alih-alih begitu ternyata krisis minyak tidak sepenuhnya mempengaruhi Indonesia. Data terbaru versi Decimalnews dinukil dari berbagai sumber. Kebutuhan minyak harian Indonesia berkisar 1,7 juta barel per hari atau sekitar Rp2,17 triliun, kelihatan besar, namun nyatanya data yang ada, Indonesia hanya menggunakan 20,83 sampai dengan 25,12 persen dari pendapatan harian negara yang sebesar Rp8,64 Triliun. Belum masuk pada angka yang mengkhawatirkan, asumsi pada 50-70 persen pendapatan harian Negara.

Produksi Dalam Negeri Tutupi Setengah Kebutuhan Minyak

Terlepas dari minyak menjadi barang langka dan bernilai besar untuk keuntungan negara, namun melihat stabilisasi nasional jauh lebih penting, nyatanya bisa menjadi salah satu yang membuat Presiden merasa tak terdampak krisis energi (BBM) saat ini.

Data yang ada, saat ini produksi dalam negeri mampu menutupi setengah dari kebutuhan BBM Indonesia (1,7 juta barel/hari) yakni 860 ribu barel per hari.

Artinya belanja minyak Indonesia Rp2,17 Triliun per hari dapat tertutupi setengahnya, Sehingga Indonesia hanya menggunakan setidaknya Rp1,85 Triliun dari Rp8,64 Triliun pendapatan hariannya.

Keberadaan B40 dan Target B100

Dilain hal kabar terkait berjalannya program mandatori biodiesel 40% atau B40 juga menambah daya tahan kita terhadap krisis energi dan minyak.

Pada Januari 2026 lalu, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia mengungkapkan bahwa program B40 mampu mengurangi biaya Impor Solar dalam negeri.

Tercatat, pemanfaatan B40 untuk domestik sepanjang 2025 mencapai 14,2 juta kilo liter (KL). Angka tersebut terpantau melebihi target yang ditentukan oleh pemerintah untuk tahun 2025 sebesar 13,5 juta KL.

Penurunan impor solar juga menjadi indikator keberhasilan program tersebut. Dalam catatannya, sepanjang 2025 Indonesia mampu mengurangi jumlah impor solar mencapai 3,3 juta KL.

Dilain hal, opsi untuk mempercepat B100 bukan tidak mungkin ditengah desakan harga minyak dunia.

Diketahui saat ini Biodiesel B100 atau bahan bakar nabati murni (100% Fatty Acid Methyl Ester/FAME) dari minyak sawit yang dikembangkan Indonesia untuk mencapai kemandirian energi dan kurangi impor solar sudah pernah diuji cobakan.

Dimana hasilnya B100 lebih ramah lingkungan dan efisiensi lebih tinggi—mencapai 13 km/liter—B100 dirancang sebagai alternatif.

Hanya saja Pengembangan B100 saat ini membutuhkan pasokan CPO dalam jumlah besar, sekitar 36 juta ton per tahun. Selain itu, harga produksi B100 dinilai masih cukup tinggi dibandingkan dengan campuran biodiesel saat ini. (Redaksi/Idr)

Bagikan artkel ini: