Teknologi mRNA Dikembangkan untuk Lawan Demam Berdarah Dengue, Buka Harapan Baru Dunia Kedokteran
DECIMALNEWS.com – Teknologi messenger RNA (mRNA) yang sebelumnya dikenal luas melalui pengembangan vaksin COVID-19 kini memasuki babak baru dalam dunia kesehatan. Untuk pertama kalinya, teknologi tersebut dikembangkan Indonesia dan Tiongkok sebagai kandidat vaksin guna melawan virus penyebab demam berdarah dengue (DBD), penyakit yang hingga kini masih menjadi ancaman serius di berbagai negara tropis, termasuk Indonesia.
Pengembangan vaksin berbasis mRNA terhadap virus dengue dinilai sebagai langkah inovatif yang berpotensi mengubah strategi pencegahan penyakit menular. Berbeda dengan pendekatan vaksin konvensional, teknologi mRNA bekerja dengan memberikan instruksi kepada sel tubuh untuk menghasilkan protein tertentu yang mampu memicu respons kekebalan tanpa menggunakan virus hidup.
“Kalau ini berhasil, ini akan menjadi salah satu vaksin baru yang diproduksi di Indonesia dengan teknologi paling mutakhir. Kita harus berterima kasih kepada para peneliti Indonesia yang sudah mampu setara dengan peneliti dunia,” kata Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin, Kamis (9/7).
Para peneliti berharap pendekatan ini mampu menghasilkan perlindungan yang lebih efektif terhadap empat serotipe virus dengue yang selama ini menjadi tantangan utama dalam pengembangan vaksin.
Menurutnya, penelitian saat ini masih berada pada tahap pengembangan dan evaluasi untuk memastikan keamanan serta efektivitas sebelum dapat memasuki tahapan uji klinis yang lebih luas.
Budi menjelaskan, sejak periode 2020-2022 pemerintah bertekad membangun fasilitas riset sendiri. Dari semula hanya ada satu perusahaan vaksin, kini Indonesia memiliki empat perusahaan, yaitu Bio Farma, Biotis, Etana, dan JBio.
Dari 16 jenis antigen yang dibutuhkan untuk program imunisasi rutin nasional, saat ini baru 11 antigen yang sudah mampu diproduksi lokal, dimana terdapat 5 antigen yang diproduksi secara mandiri dari hulu mulai riset, pembuatan bibit vaksin, hingga manufaktur. Sementara 6 antigen lainnya masih sebatas proses perakitan (assembly) atau formulasi akhir karena bahan bakunya masih diimpor dari Tiongkok dan India.
Sementara itu, para ahli penyakit infeksi menilai inovasi tersebut menjadi harapan baru dalam upaya mengurangi angka kesakitan dan kematian akibat demam berdarah, terutama di kawasan Asia Tenggara dan Amerika Latin yang menjadi wilayah endemis penyakit tersebut.
“Apabila teknologi ini berhasil melewati seluruh tahapan pengujian, maka dunia akan memiliki pendekatan baru yang sangat menjanjikan dalam pencegahan demam berdarah. Ini dapat menjadi terobosan besar dalam kesehatan global,” kata seorang pakar penyakit infeksi.
Data dari berbagai lembaga kesehatan menunjukkan bahwa setiap tahun terdapat ratusan juta infeksi dengue di seluruh dunia. Sebagian di antaranya berkembang menjadi kondisi berat yang membutuhkan perawatan intensif dan berisiko menyebabkan kematian, terutama pada anak-anak.
Di Indonesia sendiri, demam berdarah masih menjadi salah satu masalah kesehatan masyarakat yang terus muncul setiap musim hujan. Pemerintah bersama berbagai pihak selama ini mengandalkan pemberantasan sarang nyamuk, pengendalian vektor, edukasi masyarakat, serta vaksin yang telah tersedia sebagai bagian dari strategi pengendalian penyakit.
Meski demikian, para peneliti mengingatkan bahwa kandidat vaksin mRNA dengue masih harus melalui serangkaian tahapan penelitian, mulai dari uji praklinis hingga uji klinis fase I, II, dan III sebelum memperoleh persetujuan regulator untuk digunakan secara luas.
Apabila seluruh proses tersebut berhasil dilalui, teknologi mRNA berpotensi membuka era baru dalam pengembangan vaksin penyakit tropis, sekaligus memperluas pemanfaatan platform yang sebelumnya terbukti efektif dalam menghadapi pandemi COVID-19. (red)

