China Siapkan ‘Silicon Curtain’, Persaingan AI dengan AS Masuki Fase Paling Panas
DECIMALNEWS.com – Persaingan teknologi antara China dan Amerika Serikat kembali memasuki fase baru. Setelah bertahun-tahun saling membatasi akses terhadap cip semikonduktor dan teknologi manufaktur, kini kompetisi bergeser ke aset yang dianggap jauh lebih strategis: model kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI).
Pemerintah China dilaporkan tengah mempertimbangkan pembatasan akses luar negeri terhadap model AI paling mutakhir yang dikembangkan perusahaan-perusahaan teknologi nasional. Langkah tersebut menandai perubahan besar dalam strategi Beijing yang selama ini dikenal aktif merilis model AI bersifat terbuka (open-source) kepada komunitas global, dikutip Kamis (8/7/2026)
Apabila kebijakan tersebut benar-benar diterapkan, banyak pengamat menyebut dunia tengah memasuki era “Silicon Curtain” atau “Tirai Silikon”, sebuah istilah yang menggambarkan terbelahnya ekosistem teknologi global sebagaimana “Tirai Besi” yang pernah memisahkan dunia pada masa Perang Dingin.
AI Kini Menjadi Aset Strategis Negara
Selama beberapa tahun terakhir, kecerdasan buatan telah berubah dari sekadar teknologi komersial menjadi instrumen strategis yang menentukan kekuatan ekonomi, militer, keamanan siber, hingga pengaruh geopolitik suatu negara.
Amerika Serikat masih memimpin melalui perusahaan seperti OpenAI, Anthropic, Google DeepMind, dan Meta. Di sisi lain, China berhasil mempercepat ketertinggalannya melalui perusahaan seperti Alibaba, ByteDance, Z.ai, Baidu, Moonshot AI, MiniMax, dan DeepSeek.
Persaingan tersebut tidak lagi sekadar mengenai siapa yang mampu menciptakan chatbot terbaik, melainkan siapa yang menguasai infrastruktur digital masa depan.
Karena itu, baik Washington maupun Beijing mulai memperlakukan model AI mutakhir layaknya teknologi strategis yang perlu dilindungi dari akses pihak asing.
Berawal dari Perang Cip
Ketegangan AI antara kedua negara sebenarnya tidak muncul secara tiba-tiba.
Sejak 2022, Amerika Serikat secara bertahap memperketat pembatasan ekspor cip AI berperforma tinggi buatan Nvidia dan produsen lain ke China. Washington beralasan bahwa cip tersebut dapat dimanfaatkan untuk memperkuat kemampuan militer dan pengawasan Beijing.
Tidak berhenti pada perangkat keras, pembatasan kemudian diperluas ke perangkat lunak, investasi, layanan cloud, hingga akses terhadap model AI paling canggih. Pemerintah AS juga memperketat aturan agar perusahaan China tidak memperoleh akses tidak langsung terhadap teknologi AI Amerika melalui anak perusahaan di luar negeri.
Bagi China, kebijakan tersebut dipandang sebagai upaya menahan laju perkembangan teknologi nasional.
Sebagai respons, Beijing mempercepat strategi kemandirian teknologi (technological self-reliance), mulai dari pengembangan cip lokal, peningkatan investasi AI domestik, hingga pembangunan rantai pasok semikonduktor yang tidak bergantung pada Amerika Serikat.
Salah satu contoh terbaru adalah langkah DeepSeek yang tengah mengembangkan cip AI sendiri guna mengurangi ketergantungan terhadap Nvidia serta menghadapi pembatasan ekspor dari Amerika Serikat.
China Justru Menang di Open-Source AI
Ironisnya, pembatasan Amerika Serikat justru memicu munculnya strategi berbeda dari China.
Alih-alih bersaing melalui model AI tertutup yang mahal seperti GPT atau Claude, perusahaan-perusahaan China memilih mengembangkan model AI terbuka yang dapat diunduh, dimodifikasi, dan dijalankan sendiri oleh pengembang di berbagai negara.
Pendekatan tersebut membuat model AI asal China berkembang sangat cepat di komunitas pengembang global.
Dalam beberapa bulan terakhir, model dari DeepSeek, Alibaba (Qwen), dan Z.ai memperoleh perhatian luas karena mampu menawarkan performa tinggi dengan biaya operasional yang jauh lebih rendah dibandingkan model AI komersial asal Amerika Serikat. Beberapa model China bahkan menempati posisi teratas dalam berbagai tolok ukur internasional untuk kemampuan penalaran, pemrograman, dan pengembangan agen AI.
Kondisi tersebut membuat banyak startup, perusahaan rintisan, hingga lembaga penelitian di berbagai negara mulai mengadopsi model AI asal China.
Mengapa China Kini Ingin Membatasi?
Keberhasilan tersebut justru melahirkan kekhawatiran baru di Beijing.
Pemerintah China kini mempertimbangkan apakah model AI paling canggih sebaiknya tetap dapat diakses bebas oleh pengguna internasional.
Dalam sejumlah pertemuan yang melibatkan Kementerian Perdagangan China dengan perusahaan seperti Alibaba, ByteDance, dan Z.ai, pemerintah membahas kemungkinan membatasi akses luar negeri terhadap model AI generasi berikutnya yang dianggap memiliki nilai strategis tinggi.
Pertimbangannya bukan hanya persoalan ekonomi.
Beijing khawatir model AI mutakhir dapat dimanfaatkan negara lain untuk mempercepat inovasi mereka, melakukan rekayasa balik (reverse engineering), hingga mengurangi keunggulan kompetitif perusahaan AI China.
Selain itu, pemerintah juga tengah mengkaji aturan yang lebih ketat terkait investasi asing, transfer teknologi, dan perlindungan kekayaan intelektual di sektor AI.
Dunia Berpotensi Terbelah
Jika pembatasan tersebut benar-benar diterapkan, dampaknya diperkirakan tidak hanya dirasakan China maupun Amerika Serikat.
Selama ini ribuan perusahaan di Eropa, Asia, Timur Tengah, hingga Amerika Latin memanfaatkan model AI China karena biayanya yang lebih murah dibandingkan layanan AI komersial asal Amerika.
Pembatasan tersebut berpotensi meningkatkan biaya pengembangan AI global, memperlambat inovasi startup, sekaligus memperkuat dominasi perusahaan AI besar yang memiliki sumber daya untuk membangun model sendiri.
Banyak analis menilai dunia kini sedang bergerak menuju dua ekosistem AI yang berjalan secara paralel: satu dipimpin Amerika Serikat dan sekutunya, sementara yang lain dipimpin China.
AI Menjadi Medan Perebutan Pengaruh Global
Persaingan AI antara China dan Amerika Serikat kini tidak lagi hanya berbicara mengenai chatbot atau aplikasi digital.
Yang diperebutkan adalah kepemimpinan ekonomi digital, keamanan nasional, standar teknologi internasional, hingga pengaruh geopolitik pada dekade mendatang.
Karena itu, pembatasan cip, pembatasan model AI, investasi teknologi, hingga pengembangan infrastruktur komputasi diperkirakan akan terus menjadi bagian dari strategi kedua negara.
Dengan kata lain, perlombaan AI bukan sekadar kompetisi inovasi, melainkan telah berubah menjadi perebutan posisi sebagai kekuatan teknologi paling dominan di dunia. Dan keputusan China untuk mempertimbangkan “tirai silikon” terhadap model AI mutakhir menunjukkan bahwa babak baru persaingan tersebut baru saja dimulai. (Redaksi)

